website resmi pemerintah provinsi sulawesi selatan http://sulselprov.go.id

Emangnya Aku Sopir?

  • 1285 pengunjung
  • 1855 hits
  • 11 Apr 2016

Pemimpin adalah bagaikan pengemudi. Tidak boleh pilih jalan yang macet Di kepala pemimpin itu bagaimana membawa semua tanggung jawabnya dengan selamat mencapai tujuan secepat-cepatnya sehingga semua yang terkait mendapatkan rahmat dan perlindungan padanya. Kalau bisa gampang dan menyenangkan maka jangan membuat segalanya menjadi sudah dan ribet.

Pemimpin yang baik, yang lebih cepat dalam memecahkan masalah dan hasilnya maksimal. Kewibawaan dan penghormatan anak buah lahir dari ketulusannya melihat prestasi demi prestasi yang dirasakan terjadi. Kalau pemimpin makin mau dihormati makin perlihatkan prestasi. Seorang pemimpin yang mampu melahirkan pemimpin-pemimpin baru yang lebih banyak, menjadi booster atau penguat kewibawaan dan ketokohannya. Jadi dia terhormat kalau makin banyak kadernya atau anak buahnya menjadi pemimpin.

Tapi ingat pemimpin adalah tumpuan harapan, minimal harus menjadi teladan kebaikan. Dia menjadi bapakdan teman dalam memecahkan masalah. Dia diharapkan menjadi pembela kebenaran dan keadilan, bahkan dia perisai dan pelindung bagi anak buahnya dikala terjadi kecerobohan dan kesalahan.

Seorang pemimpin bahkan terkadang dilematis dalam mengambil keputusan. Bagaikan berada ditepi jurang, bagaikan menghadapi situasi melawan ibu macan yang siap menerkam atau lompat ke jurang yang penuh batu. Ayo! Pilih mana? Jawab! Yang menjadi catatan serius adalah pemimpin boleh keras dan boleh marah tetapi tidak kasar. Adat Bugis-Makassar melarang kita menghina dan mempermalukan orang di depan umum, keluarganya, terutama di depan istri dan anaknya. Kamu juga boleh kaya tetapi kaya yang “siratang” (bahasa Makassar “kaya yang sesuai kondisi tidak dipaksakan”). Kaya yang bukan hasil menipu dan mencuri, termasuk korupsi.

Kita adalah pemmpin pilihan Allah. Jaga nikmat yang ada dengan mensyukurinya. Jadikan tugas ini ibadah. Kita berdoa di akhirnya khusnul khatimah.  Aamiin. Salamakki.

 Yogyakarta-Makassar, 30 Maret 2015

Terkait

    • 1468 pengunjung
    • 2240 hits
    • 22 02 2016

    Seorang panglima perang yang tangguh mengajak seluruh anak buahnya untuk merebut pulau. Setelah seluruh perahu bersandar di pantai pulau yang akan direbut, dia kemudian memerintahkan untuk membakar semua perahu yang ada di pantai “Don’t look back”-teriaknya itulah makna “the point of no return,” titik dimana tidak ada lagi kesempatan untuk kembali. Tekad itu merupakan suatu upaya menghadirkan keberanian karena meyakini kebenaran dan berjuang tanpa kata menyerah. Makanya, “don’t stop!” hingga berhasil merebut pulau tersebut.*

                                                                                                                                                    (5 Juli 2012)

    Selengkapnya.
    • 1433 pengunjung
    • 2141 hits
    • 22 02 2016

    Kalau kita berjalan danterus melangkah memperjuangkan kebenaran yang hendak diraih, maka satu-satunya peluang adalah terus melangkah dan menaklukkan apapun yang yang ada di hadapan kita. Bila ada jalan buntu, maka pilihannya hanya : 1) menerima apa adanya dan menyerah; serta 2) berpikira dan mengerahkan segala upaya menerobos dan menemukan jalan baru untuk menggapai tujuan. Apalagi, keadaan-keadaan mendesak justru menjadi kjreativitas dan motivasi untuk meraihnya, “Never give up” (tak pernah menyerah). Toh, kita berada pada posisi “the point of no return”. Maka, “Don‘t Stop, Komandan!”*

     

                                                                                                                                                    (5 Juli 2012)

    Selengkapnya.
    • 1498 pengunjung
    • 2280 hits
    • 22 02 2016

    Teman adalah jimat dan obat mujarab serta mampu menyembuhkan berbagai penyakit. Untuk itu, kita semua wajib menjaga pertemanan dan sebisa mungkin jangan dikecewakan. Toh, teman menjadi solusi terbaik kalau kita stress, teman adalah penasihat dan penular kebaikan, teman juga memberi dukungan saat kita susah dan membutuhkan pertolongan, teman bahkan menjauhkan kita dari masalah dan depresi. Bahkan, temanlah yang memperkuat dan mendukung semua cita-cita dan harapan kita. Makanya, mari kita perbanyak teman. Jaga sikap kita untuk keutuhan pertemanan. Kembangkan sikap mau membantu, antusias, berjiwa besar, dan selalu terbuka untuk saling memberi. Mari kita tidak saling mengecewakan teman. Dan kamu temanku, saya temanmu!*     

     

                                                                                                                                                                    (14 Juli 2012)

    Selengkapnya.

menu lainnya