website resmi pemerintah provinsi sulawesi selatan http://sulselprov.go.id

Genius Culture Lahir dari Rahim Ibu

  • 1294 pengunjung
  • 1871 hits
  • 24 Feb 2016

 KELAHIRAN pemimpin dipastikan oleh banyak-nya yang mempengaruhinya. Bukan hanya pembelajaran dan pengalaman. Kalaulah kita merunut ke model kelahiran pemimpin di masa kerajaan, masa demokrasi pada garis keturunan.

      Pada dasarnya, pemimpin yang baik itu dilahirkan oleh ibu yang memeiliki genetika yang baik. Faktor genetika ayah, memang penting. Namun, genius culture itu banyak ditentukan oleh ibu yang melahirkan, memelihara, mendidik, menjaga, dan mengawal anaknyayang ditakdirkansebagai pemimpin.

      Pelajaran kepemimpinan yang baik yang pertama bisa dilihat, malah dari genetika. Saya percaya genius culture yang dibawa seorang ibu akan melahirkan sosok pemimpin. Tetapi tentu tidak dengan itu saja. Arti seorang ibu mengajarkan bagaimana mengurusi orang banyak dan bagaimana mengajarkan tentang solidaritas, sebab sosok ibu mengajarkan bagaimana melihat tetangga yang sakit, guru yang sakit, dan lainnya. Dia mengingatkan sebagai pengajaran, misalnya, apakah kita sudah membesuk kerabat maupun teman yang sakit ? apakah kita sudah mengucapkan selamat ketika mereka berulang tahun? Bentuk-bentuk empati seperti itu diajarkan oleh seorang ibu dan diajarkan didalam rumah.

      Seseorang yang tidak memeiliki empati bukanlah seorang pemimpin. Sebab, orang yang memimpin itu awalnya adalah dihati. Ada ketulusan di nuraninya ! oleh karena itu keluarga dengan genetika yang baik merupakan modal awal, tetapi tidak cukup dengan itu saja. Modal awal itu adalah bagaimana membangun karekter yang paling dalam. Misalnya, melihat ada orang yang dipukuli disana, maka seorang pemimpin tidak boleh diam. Minimal dia bereaksi. Melihat ada orang kecurian disana, dia tidak boleh diam. Insting kepemimpinan yang dibangun dari genetika itulah yang lahir dari keluarga, dari keseharian, serta dari masyarakat.

      Apabila kalau kemudian pendekatan-pendekatan behavior yakni perilaku langsung, insting langsung, dan sugesti kepemimpinan itu didapatkan dari keluarga – katakanlah seorang ibu yang baik. Pendekatan-pendekatan itu kemudian dibangun dengan pendekatan akademik melalui pendidikan-pendidikan formal, melalui pengalaman-pengalaman dan tantangan, pastilah akan menjadi kuat. Dia pasti menjadi utuh. Intinya, tidak ada pemimpin yang tidak berhadapan dengan tantangan setiap hari.

      Pemimpin itu dapat diibaratkan sebagai tumbuhan. Kalau mau jadi rumput yang tidak kena angin, jadilah rumput dan kalian akan diinjak-injak. Tetapi kalu kau mau jadi pohon besar, tunggulah angin topan pun akan datang dan sewaktu-waktu akan bisa menumbangkanmu. Minimal menserpih-serpih apa yang ada. Kalau begitu, seorang pemimpin juga harus memiliki kesiapan-kesiapan yang luar biasa.

      Ketahanan pemimpin menghadapi beragam tantangan, memang tidak lepas dari sosok ibu. Kecerdasan kultur yang menjadi modal dasar kepemimpinan seseorang, merupakan ajaran ibu yang selalu mengawal anak-anaknya. Itu sebabnya, pemimpin yang baik itu tidak lepas dari peranan ibunya, ibu yang memberinya cinta dan beragam pengajaran kemanusiaan yang merupakan modal dasar  sukses seorang pemimpin ditengah masyarakat.

 

                                                                                                (Makassar, 1 Agustus 2014)

 KELAHIRAN pemimpin dipastikan oleh banyak-nya yang mempengaruhinya. Bukan hanya pembelajaran dan pengalaman. Kalaulah kita merunut ke model kelahiran pemimpin di masa kerajaan, masa demokrasi pada garis keturunan.

      Pada dasarnya, pemimpin yang baik itu dilahirkan oleh ibu yang memeiliki genetika yang baik. Faktor genetika ayah, memang penting. Namun, genius culture itu banyak ditentukan oleh ibu yang melahirkan, memelihara, mendidik, menjaga, dan mengawal anaknyayang ditakdirkansebagai pemimpin.

      Pelajaran kepemimpinan yang baik yang pertama bisa dilihat, malah dari genetika. Saya percaya genius culture yang dibawa seorang ibu akan melahirkan sosok pemimpin. Tetapi tentu tidak dengan itu saja. Arti seorang ibu mengajarkan bagaimana mengurusi orang banyak dan bagaimana mengajarkan tentang solidaritas, sebab sosok ibu mengajarkan bagaimana melihat tetangga yang sakit, guru yang sakit, dan lainnya. Dia mengingatkan sebagai pengajaran, misalnya, apakah kita sudah membesuk kerabat maupun teman yang sakit ? apakah kita sudah mengucapkan selamat ketika mereka berulang tahun? Bentuk-bentuk empati seperti itu diajarkan oleh seorang ibu dan diajarkan didalam rumah.

      Seseorang yang tidak memeiliki empati bukanlah seorang pemimpin. Sebab, orang yang memimpin itu awalnya adalah dihati. Ada ketulusan di nuraninya ! oleh karena itu keluarga dengan genetika yang baik merupakan modal awal, tetapi tidak cukup dengan itu saja. Modal awal itu adalah bagaimana membangun karekter yang paling dalam. Misalnya, melihat ada orang yang dipukuli disana, maka seorang pemimpin tidak boleh diam. Minimal dia bereaksi. Melihat ada orang kecurian disana, dia tidak boleh diam. Insting kepemimpinan yang dibangun dari genetika itulah yang lahir dari keluarga, dari keseharian, serta dari masyarakat.

      Apabila kalau kemudian pendekatan-pendekatan behavior yakni perilaku langsung, insting langsung, dan sugesti kepemimpinan itu didapatkan dari keluarga – katakanlah seorang ibu yang baik. Pendekatan-pendekatan itu kemudian dibangun dengan pendekatan akademik melalui pendidikan-pendidikan formal, melalui pengalaman-pengalaman dan tantangan, pastilah akan menjadi kuat. Dia pasti menjadi utuh. Intinya, tidak ada pemimpin yang tidak berhadapan dengan tantangan setiap hari.

      Pemimpin itu dapat diibaratkan sebagai tumbuhan. Kalau mau jadi rumput yang tidak kena angin, jadilah rumput dan kalian akan diinjak-injak. Tetapi kalu kau mau jadi pohon besar, tunggulah angin topan pun akan datang dan sewaktu-waktu akan bisa menumbangkanmu. Minimal menserpih-serpih apa yang ada. Kalau begitu, seorang pemimpin juga harus memiliki kesiapan-kesiapan yang luar biasa.

      Ketahanan pemimpin menghadapi beragam tantangan, memang tidak lepas dari sosok ibu. Kecerdasan kultur yang menjadi modal dasar kepemimpinan seseorang, merupakan ajaran ibu yang selalu mengawal anak-anaknya. Itu sebabnya, pemimpin yang baik itu tidak lepas dari peranan ibunya, ibu yang memberinya cinta dan beragam pengajaran kemanusiaan yang merupakan modal dasar  sukses seorang pemimpin ditengah masyarakat.

 

                                                                                                (Makassar, 1 Agustus 2014) KELAHIRAN pemimpin dipastikan oleh banyak-nya yang mempengaruhinya. Bukan hanya pembelajaran dan pengalaman. Kalaulah kita merunut ke model kelahiran pemimpin di masa kerajaan, masa demokrasi pada garis keturunan.

      Pada dasarnya, pemimpin yang baik itu dilahirkan oleh ibu yang memeiliki genetika yang baik. Faktor genetika ayah, memang penting. Namun, genius culture itu banyak ditentukan oleh ibu yang melahirkan, memelihara, mendidik, menjaga, dan mengawal anaknyayang ditakdirkansebagai pemimpin.

      Pelajaran kepemimpinan yang baik yang pertama bisa dilihat, malah dari genetika. Saya percaya genius culture yang dibawa seorang ibu akan melahirkan sosok pemimpin. Tetapi tentu tidak dengan itu saja. Arti seorang ibu mengajarkan bagaimana mengurusi orang banyak dan bagaimana mengajarkan tentang solidaritas, sebab sosok ibu mengajarkan bagaimana melihat tetangga yang sakit, guru yang sakit, dan lainnya. Dia mengingatkan sebagai pengajaran, misalnya, apakah kita sudah membesuk kerabat maupun teman yang sakit ? apakah kita sudah mengucapkan selamat ketika mereka berulang tahun? Bentuk-bentuk empati seperti itu diajarkan oleh seorang ibu dan diajarkan didalam rumah.

      Seseorang yang tidak memeiliki empati bukanlah seorang pemimpin. Sebab, orang yang memimpin itu awalnya adalah dihati. Ada ketulusan di nuraninya ! oleh karena itu keluarga dengan genetika yang baik merupakan modal awal, tetapi tidak cukup dengan itu saja. Modal awal itu adalah bagaimana membangun karekter yang paling dalam. Misalnya, melihat ada orang yang dipukuli disana, maka seorang pemimpin tidak boleh diam. Minimal dia bereaksi. Melihat ada orang kecurian disana, dia tidak boleh diam. Insting kepemimpinan yang dibangun dari genetika itulah yang lahir dari keluarga, dari keseharian, serta dari masyarakat.

      Apabila kalau kemudian pendekatan-pendekatan behavior yakni perilaku langsung, insting langsung, dan sugesti kepemimpinan itu didapatkan dari keluarga – katakanlah seorang ibu yang baik. Pendekatan-pendekatan itu kemudian dibangun dengan pendekatan akademik melalui pendidikan-pendidikan formal, melalui pengalaman-pengalaman dan tantangan, pastilah akan menjadi kuat. Dia pasti menjadi utuh. Intinya, tidak ada pemimpin yang tidak berhadapan dengan tantangan setiap hari.

      Pemimpin itu dapat diibaratkan sebagai tumbuhan. Kalau mau jadi rumput yang tidak kena angin, jadilah rumput dan kalian akan diinjak-injak. Tetapi kalu kau mau jadi pohon besar, tunggulah angin topan pun akan datang dan sewaktu-waktu akan bisa menumbangkanmu. Minimal menserpih-serpih apa yang ada. Kalau begitu, seorang pemimpin juga harus memiliki kesiapan-kesiapan yang luar biasa.

      Ketahanan pemimpin menghadapi beragam tantangan, memang tidak lepas dari sosok ibu. Kecerdasan kultur yang menjadi modal dasar kepemimpinan seseorang, merupakan ajaran ibu yang selalu mengawal anak-anaknya. Itu sebabnya, pemimpin yang baik itu tidak lepas dari peranan ibunya, ibu yang memberinya cinta dan beragam pengajaran kemanusiaan yang merupakan modal dasar  sukses seorang pemimpin ditengah masyarakat.

 

                                                                                                (Makassar, 1 Agustus 2014)

Terkait

    • 1358 pengunjung
    • 2125 hits
    • 22 02 2016

    Seorang panglima perang yang tangguh mengajak seluruh anak buahnya untuk merebut pulau. Setelah seluruh perahu bersandar di pantai pulau yang akan direbut, dia kemudian memerintahkan untuk membakar semua perahu yang ada di pantai “Don’t look back”-teriaknya itulah makna “the point of no return,” titik dimana tidak ada lagi kesempatan untuk kembali. Tekad itu merupakan suatu upaya menghadirkan keberanian karena meyakini kebenaran dan berjuang tanpa kata menyerah. Makanya, “don’t stop!” hingga berhasil merebut pulau tersebut.*

                                                                                                                                                    (5 Juli 2012)

    Selengkapnya.
    • 1321 pengunjung
    • 2027 hits
    • 22 02 2016

    Kalau kita berjalan danterus melangkah memperjuangkan kebenaran yang hendak diraih, maka satu-satunya peluang adalah terus melangkah dan menaklukkan apapun yang yang ada di hadapan kita. Bila ada jalan buntu, maka pilihannya hanya : 1) menerima apa adanya dan menyerah; serta 2) berpikira dan mengerahkan segala upaya menerobos dan menemukan jalan baru untuk menggapai tujuan. Apalagi, keadaan-keadaan mendesak justru menjadi kjreativitas dan motivasi untuk meraihnya, “Never give up” (tak pernah menyerah). Toh, kita berada pada posisi “the point of no return”. Maka, “Don‘t Stop, Komandan!”*

     

                                                                                                                                                    (5 Juli 2012)

    Selengkapnya.
    • 1384 pengunjung
    • 2170 hits
    • 22 02 2016

    Teman adalah jimat dan obat mujarab serta mampu menyembuhkan berbagai penyakit. Untuk itu, kita semua wajib menjaga pertemanan dan sebisa mungkin jangan dikecewakan. Toh, teman menjadi solusi terbaik kalau kita stress, teman adalah penasihat dan penular kebaikan, teman juga memberi dukungan saat kita susah dan membutuhkan pertolongan, teman bahkan menjauhkan kita dari masalah dan depresi. Bahkan, temanlah yang memperkuat dan mendukung semua cita-cita dan harapan kita. Makanya, mari kita perbanyak teman. Jaga sikap kita untuk keutuhan pertemanan. Kembangkan sikap mau membantu, antusias, berjiwa besar, dan selalu terbuka untuk saling memberi. Mari kita tidak saling mengecewakan teman. Dan kamu temanku, saya temanmu!*     

     

                                                                                                                                                                    (14 Juli 2012)

    Selengkapnya.

menu lainnya