website resmi pemerintah provinsi sulawesi selatan http://sulselprov.go.id

Ilmu Bertambah, Cahaya di Kepalamu Terang

  • 1302 pengunjung
  • 1754 hits
  • 11 Apr 2016

Orang yang berilmu ditinggikan derajatnya oleh Allah Subhanallahu Wata’ala, oleh karena itu kejarlah ilmu sampai ke negeri Tiongkok. Karena kalau kau berilmu maka pastilah kamu cerdas dan kecerdasanmu menuntunmu menyelesaikan masalah-masalah hidupmu dengan tetap bergengsi dan terhormat, serta bermartabat. Kalau memiliki ilmu tidak perlu kau, sebab ilmu menjaga dirimu. Tetapi, kalau memiliki harta, kau harus jaga, sebab harta tidak bisa menjaga dirimu dan mudah habis.

Itulah bedanya orang yang berilmu dan cerdas dengan orang bodoh (stupid man).

Karena orang yang tidak berilmu itu cenderung menyelesaikan masalahnya dengan otot dan tidak bermartabat. Contohnya orang bodoh kalau tidak punya uang, dia korupsi dan mencuri. Orang cerdas dan berilmu melakukan terobosan dengan bekerja.

Maka tambah ki ilmumu. Kalau bisa jadi professor ko kayak Pak Chairul Tanjung. Kenapa? Karena kalau ada ilmu baru kau miliki, itu bagaikan menaikkan cahaya di atas kepalamu. Kau akan mampu menebar terang pada kehidupan orang di sekitarmu.

Kalau ilmumu bertambah, membuat pikiranmu makin jernih … tentunya. Itu akan menghadirkan managemen pergaulan yang makin baik bahkan hadir kolega dan pertemanan yang makin luas dan berarti dalam hidupmu. Logika yang berkembang membuat kau makin arif menyikapi apa yang dating menghampirimu. Kalau ilmumu bertambah, kau akan makin cerdas, makin empati dalam hidup, makin meresonansikan semangat hidup yang membara pada keluarga dan orang-orang di sekitarmu Janji Tuhan ditingkatkan derajat gengsi dan martabatnya. Albert Einstein berkata, ilmu pengetahuan tanpa agama pincang, agama tanpa ilmu pengetahuan buta.

Kalau begitu, setiap hari tambah ki ilmumu. Kejarlah dari apa saja, termasuk mencontohi kebaikan-kebaikan orang ain yang berhasil di sekitarmu. Ayo mi! Kita mulai sama-sama. Salamakki

Surabaya-Makassar, 18 April 2015

 

Terkait

    • 1369 pengunjung
    • 2142 hits
    • 22 02 2016

    Seorang panglima perang yang tangguh mengajak seluruh anak buahnya untuk merebut pulau. Setelah seluruh perahu bersandar di pantai pulau yang akan direbut, dia kemudian memerintahkan untuk membakar semua perahu yang ada di pantai “Don’t look back”-teriaknya itulah makna “the point of no return,” titik dimana tidak ada lagi kesempatan untuk kembali. Tekad itu merupakan suatu upaya menghadirkan keberanian karena meyakini kebenaran dan berjuang tanpa kata menyerah. Makanya, “don’t stop!” hingga berhasil merebut pulau tersebut.*

                                                                                                                                                    (5 Juli 2012)

    Selengkapnya.
    • 1327 pengunjung
    • 2043 hits
    • 22 02 2016

    Kalau kita berjalan danterus melangkah memperjuangkan kebenaran yang hendak diraih, maka satu-satunya peluang adalah terus melangkah dan menaklukkan apapun yang yang ada di hadapan kita. Bila ada jalan buntu, maka pilihannya hanya : 1) menerima apa adanya dan menyerah; serta 2) berpikira dan mengerahkan segala upaya menerobos dan menemukan jalan baru untuk menggapai tujuan. Apalagi, keadaan-keadaan mendesak justru menjadi kjreativitas dan motivasi untuk meraihnya, “Never give up” (tak pernah menyerah). Toh, kita berada pada posisi “the point of no return”. Maka, “Don‘t Stop, Komandan!”*

     

                                                                                                                                                    (5 Juli 2012)

    Selengkapnya.
    • 1392 pengunjung
    • 2185 hits
    • 22 02 2016

    Teman adalah jimat dan obat mujarab serta mampu menyembuhkan berbagai penyakit. Untuk itu, kita semua wajib menjaga pertemanan dan sebisa mungkin jangan dikecewakan. Toh, teman menjadi solusi terbaik kalau kita stress, teman adalah penasihat dan penular kebaikan, teman juga memberi dukungan saat kita susah dan membutuhkan pertolongan, teman bahkan menjauhkan kita dari masalah dan depresi. Bahkan, temanlah yang memperkuat dan mendukung semua cita-cita dan harapan kita. Makanya, mari kita perbanyak teman. Jaga sikap kita untuk keutuhan pertemanan. Kembangkan sikap mau membantu, antusias, berjiwa besar, dan selalu terbuka untuk saling memberi. Mari kita tidak saling mengecewakan teman. Dan kamu temanku, saya temanmu!*     

     

                                                                                                                                                                    (14 Juli 2012)

    Selengkapnya.

menu lainnya