website resmi pemerintah provinsi sulawesi selatan http://sulselprov.go.id

Jangan terlalu mencintai

  • 1630 pengunjung
  • 2139 hits
  • 24 Feb 2016

ORANG Makassar mengenal kata “dudu” yang berarti “terlalu” atau kelewat. Berkaitan “dudu” inilah, saya mendekatkannya pada kalimat yang berkaitan “terlalu”. Misalnya, “terlalu cinta” atau “cinta dudu”

      Memamg, ada yang bilang kalau kau cinta jangan sampai keterlaluan dan menjadi cinta buta yang habis-habisan. Begitu pula, kalau kau benci maka jangan benci berlebihan karena itu bisa berakhir dengan kesengsaraan dan kematian. Kalau begitu, mencintailah tetapi jangan sampai cinta dan benci sampai mati atau “cinta dan benci dudu”.

      Mengapa jangan “dudu” atau “terlalu”? sebab, terlalu cinta atau terlalu benci membuat kit memandang sesuatu secara taklid buta. Katakanlah, karena cintamu harus membahagiakanmu dan bencimu jangan tambah susah dan makin membuatmu sengsara. Kalau begitu, cintalah dan bencilah tetapi yang biasa-biasa saja. Jangan pakai terlalu. Bukan “dudu”

      Pasalnya, cinta maupun benci itu mengandung bara dan energi yang dahsyat dan berbahaya karena bisa membuatmu nekat, emosional, histeris, dan lain-lain. Kata “terlalu” itu bisa mewujudkan tindakan heroik yang tidak bisa diprediksi bergerak dan melakukan wujudnya kadang tanpa kendali – ibarat kalau cinta dan benci, maka tembok tinggi yang logikanya tidak bisa dilewati dan dijebol itu bisa terjadi atas nama cinta dan benci.

      Akan tetapi, bila cinta dikelola dengan positif, misalnya cinta pada kerja dan pengabdian yang normatif,maka dia akan menjadi prestasi. Sebaliknya benci mati itu maka sesuatu yang harus diwaspadai karena bisa berujung dengan perbuatan menyakiti, membunuh, melakukan tindakan sadistis yang tidak kita perkirakan sebelumnya.

      Kalaulah begitu, biasa-biasa sajalah! Jika kau cinta atau benci, yang sedang-sedang saja dan arahkan ke arah yang positif. Jangan terjebak dengan kata “dudu” atau “terlalu”, sebab kamu bisa sangat emosional dan membunuhnya!

     

                                                                              (Surabaya-Makassar, 7 Oktober 2014)

 

Terkait

    • 1588 pengunjung
    • 2261 hits
    • 22 02 2016

    Seorang panglima perang yang tangguh mengajak seluruh anak buahnya untuk merebut pulau. Setelah seluruh perahu bersandar di pantai pulau yang akan direbut, dia kemudian memerintahkan untuk membakar semua perahu yang ada di pantai “Don’t look back”-teriaknya itulah makna “the point of no return,” titik dimana tidak ada lagi kesempatan untuk kembali. Tekad itu merupakan suatu upaya menghadirkan keberanian karena meyakini kebenaran dan berjuang tanpa kata menyerah. Makanya, “don’t stop!” hingga berhasil merebut pulau tersebut.*

                                                                                                                                                    (5 Juli 2012)

    Selengkapnya.
    • 1535 pengunjung
    • 2162 hits
    • 22 02 2016

    Kalau kita berjalan danterus melangkah memperjuangkan kebenaran yang hendak diraih, maka satu-satunya peluang adalah terus melangkah dan menaklukkan apapun yang yang ada di hadapan kita. Bila ada jalan buntu, maka pilihannya hanya : 1) menerima apa adanya dan menyerah; serta 2) berpikira dan mengerahkan segala upaya menerobos dan menemukan jalan baru untuk menggapai tujuan. Apalagi, keadaan-keadaan mendesak justru menjadi kjreativitas dan motivasi untuk meraihnya, “Never give up” (tak pernah menyerah). Toh, kita berada pada posisi “the point of no return”. Maka, “Don‘t Stop, Komandan!”*

     

                                                                                                                                                    (5 Juli 2012)

    Selengkapnya.
    • 1627 pengunjung
    • 2304 hits
    • 22 02 2016

    Teman adalah jimat dan obat mujarab serta mampu menyembuhkan berbagai penyakit. Untuk itu, kita semua wajib menjaga pertemanan dan sebisa mungkin jangan dikecewakan. Toh, teman menjadi solusi terbaik kalau kita stress, teman adalah penasihat dan penular kebaikan, teman juga memberi dukungan saat kita susah dan membutuhkan pertolongan, teman bahkan menjauhkan kita dari masalah dan depresi. Bahkan, temanlah yang memperkuat dan mendukung semua cita-cita dan harapan kita. Makanya, mari kita perbanyak teman. Jaga sikap kita untuk keutuhan pertemanan. Kembangkan sikap mau membantu, antusias, berjiwa besar, dan selalu terbuka untuk saling memberi. Mari kita tidak saling mengecewakan teman. Dan kamu temanku, saya temanmu!*     

     

                                                                                                                                                                    (14 Juli 2012)

    Selengkapnya.

menu lainnya