website resmi pemerintah provinsi sulawesi selatan http://sulselprov.go.id

Kesatuan yang Holistik

  • 1442 pengunjung
  • 2077 hits
  • 23 Feb 2016

Dari berbagai penelitian, ternyata orang bersepakat bahwa dalam diri seseorang ada tiga hal yang senantiasa ikut menjadi pendorong dari langkah aktifitas dan perbuatannya. Yakni, hadirnya relung-relung dari pendekatan intelektual, emosional dan amanah agama.

Pendekatan intelektual mendorong mereka untuk berfikir seperti apa dirinya dan apa yang dia dapat dari kemampuan-kemampuan yang dia miliki. Tetapi dibalik pendekatan intelektual itu hadir pula pendekatan-pendekatan emosional. Pendekatan emosional adalah tidak lain menghadirkan empati kemanusiaan dalam kehidupan kita. Artinya kehadiran seseorang senantiasa berhubungan seperti apa dia terkait dengan orang lain, seperti apa dia terkait dan berhubungan dengan alam semesta dan lingkungan yang ada disekitarnya.

Orang hanya bisa dikatakan baik tidak hanya karena tidak hanya karena dia punya kemampuan ilmu pengetahuan dan kemampuan menguasai teknologi yang ada, tapi juga memiliki pendekatan emosional yang berbentuk empati. Empati itu artinya apa yang kita rasakan baik, maka lakukan juga pada orang lain kebaikan itu. Jangan cubit orang lain kalau  ternyata cubitan itu juga menyakiti diri kita. Jangan mengambil hak orang lain, karena itu juga tidak enak pada dirimu.

Pendekatan emosional juga terkait dengan kalau saya senang kalau banyak teman yang membantu saya, lakukan juga hal seperti itu pada orang lain. Kita harus menjadi teman yang mau menolong menjadi pendamping, menjadi orang yang bisa memberi sharing terhadap orang lain, sehingga orang lain menjadi bahagia.

Dua pendekatan tersebut akhirnya menyadarkan seseorang bahwa dia memiliki agama yang kuat, karena pendekatan intelektual, pendekatan emosional, pada gilirannya juga akan memperkuat seseorang memiliki pijakan yang kokoh bahwa dia menjalankan amanah ibadah. Keseharian langkah, pada gilirannya menjadikan dia makin dekat pada Allah. Dia menjadi orang-orang yang konsisten melaksanakan sunnatullah.

Tiga pendekatan ini adalah satu kesatuan yang holistik. Tetapi bagaimana dengan orang-orang yang hanya memiliki kemampuan untuk berorientasi pada pendekatan intelektual semata ? Bagaimana dengan orang-orang yang kemudian hanya dekat dengan pendekatan agamanya yang dogmatis semata, tapi kehilangan pendekatan humanistiknya, pendekatan emosionalnya ? Yang seperti ini kadang-kadang akhirnya kita melihat ada orang yang kemudian tega atas nama dogma, mengorbankan orang lain, menjadi teroris yang mengebom kiri-kanan karena kehilangan empatinya. Oleh karena itu memang dalam Islam bahkan dikatakan, hadirkan pendekatan sunnatullah. Hablum Minallah wahablum Minannas harus sejalan. Semoga tiga pendekatan itu, senantiasa jalan seiring dalam kehidupan kita.*

 

Terkait

    • 1555 pengunjung
    • 2258 hits
    • 22 02 2016

    Seorang panglima perang yang tangguh mengajak seluruh anak buahnya untuk merebut pulau. Setelah seluruh perahu bersandar di pantai pulau yang akan direbut, dia kemudian memerintahkan untuk membakar semua perahu yang ada di pantai “Don’t look back”-teriaknya itulah makna “the point of no return,” titik dimana tidak ada lagi kesempatan untuk kembali. Tekad itu merupakan suatu upaya menghadirkan keberanian karena meyakini kebenaran dan berjuang tanpa kata menyerah. Makanya, “don’t stop!” hingga berhasil merebut pulau tersebut.*

                                                                                                                                                    (5 Juli 2012)

    Selengkapnya.
    • 1504 pengunjung
    • 2161 hits
    • 22 02 2016

    Kalau kita berjalan danterus melangkah memperjuangkan kebenaran yang hendak diraih, maka satu-satunya peluang adalah terus melangkah dan menaklukkan apapun yang yang ada di hadapan kita. Bila ada jalan buntu, maka pilihannya hanya : 1) menerima apa adanya dan menyerah; serta 2) berpikira dan mengerahkan segala upaya menerobos dan menemukan jalan baru untuk menggapai tujuan. Apalagi, keadaan-keadaan mendesak justru menjadi kjreativitas dan motivasi untuk meraihnya, “Never give up” (tak pernah menyerah). Toh, kita berada pada posisi “the point of no return”. Maka, “Don‘t Stop, Komandan!”*

     

                                                                                                                                                    (5 Juli 2012)

    Selengkapnya.
    • 1588 pengunjung
    • 2303 hits
    • 22 02 2016

    Teman adalah jimat dan obat mujarab serta mampu menyembuhkan berbagai penyakit. Untuk itu, kita semua wajib menjaga pertemanan dan sebisa mungkin jangan dikecewakan. Toh, teman menjadi solusi terbaik kalau kita stress, teman adalah penasihat dan penular kebaikan, teman juga memberi dukungan saat kita susah dan membutuhkan pertolongan, teman bahkan menjauhkan kita dari masalah dan depresi. Bahkan, temanlah yang memperkuat dan mendukung semua cita-cita dan harapan kita. Makanya, mari kita perbanyak teman. Jaga sikap kita untuk keutuhan pertemanan. Kembangkan sikap mau membantu, antusias, berjiwa besar, dan selalu terbuka untuk saling memberi. Mari kita tidak saling mengecewakan teman. Dan kamu temanku, saya temanmu!*     

     

                                                                                                                                                                    (14 Juli 2012)

    Selengkapnya.

menu lainnya