website resmi pemerintah provinsi sulawesi selatan http://sulselprov.go.id

Pemimpin Gaya Bugis-Makassar

  • 1686 pengunjung
  • 2364 hits
  • 24 Feb 2016

PEMIMPIN seharusnya adalah mereka yang tidak diragukan kemampuan, kebaikan, kearifan, selalu terasa niat baik untuk melindungi dan menabur rahmat serta kemaslahatan bagi yang dipimpinnya. Kalau dia tegas menyikapi sesuatu, tidak lain adalah bagian untuk menjunjung tinggi aturan hukum, netralitas yang objektif mewujudkan kecintaan pada keadilan.

            Pemimpin harus telah teruji di dalam keberpihaknya pada yang lemah demi kesejahteraan yang merata. Dia begerak tidak sekedar percitraan yang di-“skenario”-kan, apalagi pencitraan hebat dengan menggunakan uang dan kekuasaan perilakunya penuh ketulusan. Bergerak apa adanya. Bila memerintah, senantiasa menjadi teladan untuk di taati. Dia akrab dengan semua orang termasuk lawan-lawan politikya. Jika dia khilaf atau salah sebagai manusia biasa, dia mau minta maaf.

            Kepemimpinan tersebut di daerah Bugis-Makassar bukanlah hal baru. Di lontarak, dikatakan bahwa “kamu baru pemimpin yang baik kalau bisa menjadi anak buah yang baik, karena tidak ada yang tidak ada pemimpinnya kecuali Allah”. Seperti nasihat bijak leluhur, “iyaji antu karaeng, somba, punna biasa akkaraeng na annyomba. Punna nia’ baraninu pasti nia’ appasingkammainnu. Punna nia’ baranini pasti nia’ tau angkulai angngewaiko. Teako barebbesangi rewanu punna teako matesiriki”, bahwa, “kamu bisa menjadi pemimpin jika mafhum akan dipimpin, bila kamu berani maka akan ada orang lain yang dapat menyamaimu, bila kamu melawan maka akan ada orang dpat melawanmu, maka janganlah mengumbar keberanian jika kamu tidak ingin dipermalukan”.

            So? Mari kita menjadi pemimpin yang baik ala raja di tanah Bugis-Makassar, yang baik hati, sopan, dan disayangi oleh banyak orang.

 

 

(Jakarta, 4 November 2013)

 

 

Terkait

    • 1555 pengunjung
    • 2258 hits
    • 22 02 2016

    Seorang panglima perang yang tangguh mengajak seluruh anak buahnya untuk merebut pulau. Setelah seluruh perahu bersandar di pantai pulau yang akan direbut, dia kemudian memerintahkan untuk membakar semua perahu yang ada di pantai “Don’t look back”-teriaknya itulah makna “the point of no return,” titik dimana tidak ada lagi kesempatan untuk kembali. Tekad itu merupakan suatu upaya menghadirkan keberanian karena meyakini kebenaran dan berjuang tanpa kata menyerah. Makanya, “don’t stop!” hingga berhasil merebut pulau tersebut.*

                                                                                                                                                    (5 Juli 2012)

    Selengkapnya.
    • 1503 pengunjung
    • 2161 hits
    • 22 02 2016

    Kalau kita berjalan danterus melangkah memperjuangkan kebenaran yang hendak diraih, maka satu-satunya peluang adalah terus melangkah dan menaklukkan apapun yang yang ada di hadapan kita. Bila ada jalan buntu, maka pilihannya hanya : 1) menerima apa adanya dan menyerah; serta 2) berpikira dan mengerahkan segala upaya menerobos dan menemukan jalan baru untuk menggapai tujuan. Apalagi, keadaan-keadaan mendesak justru menjadi kjreativitas dan motivasi untuk meraihnya, “Never give up” (tak pernah menyerah). Toh, kita berada pada posisi “the point of no return”. Maka, “Don‘t Stop, Komandan!”*

     

                                                                                                                                                    (5 Juli 2012)

    Selengkapnya.
    • 1588 pengunjung
    • 2303 hits
    • 22 02 2016

    Teman adalah jimat dan obat mujarab serta mampu menyembuhkan berbagai penyakit. Untuk itu, kita semua wajib menjaga pertemanan dan sebisa mungkin jangan dikecewakan. Toh, teman menjadi solusi terbaik kalau kita stress, teman adalah penasihat dan penular kebaikan, teman juga memberi dukungan saat kita susah dan membutuhkan pertolongan, teman bahkan menjauhkan kita dari masalah dan depresi. Bahkan, temanlah yang memperkuat dan mendukung semua cita-cita dan harapan kita. Makanya, mari kita perbanyak teman. Jaga sikap kita untuk keutuhan pertemanan. Kembangkan sikap mau membantu, antusias, berjiwa besar, dan selalu terbuka untuk saling memberi. Mari kita tidak saling mengecewakan teman. Dan kamu temanku, saya temanmu!*     

     

                                                                                                                                                                    (14 Juli 2012)

    Selengkapnya.

menu lainnya