Badiklat Sulsel Wajibkan Baca Tulis Al Quran-Bagi Peserta Diklatpim dan Prajabatan

blog-detail.jpg

Badan Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Sulsel mewajibkan baca tulis Al Quran bagi Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang mengikuti Diklatpim dan CPNS yang mengikuti diklat prajabatan. Jika tidak bisa baca tulis Al Quran, maka siap-siap kembali untuk mengulang.

Kepala Badan Diklat Sulsel, Irman Yasin Limpo, mengatakan, pihaknya menggandeng Wahdah Islamiyah dan beberapa organisasi keagamaan lainnya, untuk memberikan pendidikan nurani kepada peserta diklat, termasuk baca tulis Al Quran bagi yang beragama Islam. Menurutnya, sistem good governance yang sudah canggih kurang berhasil diterapkan di Indonesia, karena ada persoalan nurani.

"Kami di Badan Diklat Sulsel khususnya, mau memainstreamkan persoalan nurani. Sebenarnya, sistem good governance itu sudah canggih, bahkan kemarin saya ke Belanda, juga diterapkan disana. Tapi kenapa di Indonesia kurang berhasil, karena persoalan nurani yang berbeda. Karena itu, kita coba kerjasamakan dengan Wahdah dan organisasi keagamaan lainnya," kata Irman, usai peresmian Masjid Rabbani Badan Diklat Sulsel, Rabu (1/6).

Irman mengungkapkan, sekarang ada mata kuliah Service by Heart di Badan Diklat Sulsel. "Intinya, manusia itu harus tahu, bagaimana kalau misalnya dia hidup tanpa orang lain, atau bagaimana jika hidup dengan orang lain. Dengan begitu, dia bisa melayani dengan baik. Itulah yang hilang sekarang," ujarnya.

Sementara, Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo, mengapresiasi upaya Badan Diklat Sulsel yang bekerjasama dengan Wahdah Islamiyah, agar semua peserta diklat dilatih baca tulis Al Quran. Menurutnya, langkah tersebut merupakan trend baru yang harus didorong di era yang serba maju dan modern seperti sekarang ini.

"Kita harus punya moralitas yang dibungkus dengan pendidikan agama yang kuat. Tanpa itu, kita bisa terbawa arus globalisasi yang akhirnya membuat kita tidak punya konsepsi diri yang kuat. Saya kira, Badan Diklat di Sulsel mencoba meramu itu," kata Syahrul.

Syahrul menambahkan, Badan Diklat Sulsel tidak hanya berupaya membangun kecerdasan visual dan intelektual, tapi kecerdasan moralitas dan ibadah. Bahkan, beberapa silabus diklat dikaitkan dengan pengejawantahan secara konkrit terhadap agama, baik itu Islam atau Kristen dan agama lainnya. Badan Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Sulsel mewajibkan baca tulis Al Quran bagi Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang mengikuti Diklatpim dan CPNS yang mengikuti diklat prajabatan. Jika tidak bisa baca tulis Al Quran, maka siap-siap kembali untuk mengulang.

Kepala Badan Diklat Sulsel, Irman Yasin Limpo, mengatakan, pihaknya menggandeng Wahdah Islamiyah dan beberapa organisasi keagamaan lainnya, untuk memberikan pendidikan nurani kepada peserta diklat, termasuk baca tulis Al Quran bagi yang beragama Islam. Menurutnya, sistem good governance yang sudah canggih kurang berhasil diterapkan di Indonesia, karena ada persoalan nurani.

"Kami di Badan Diklat Sulsel khususnya, mau memainstreamkan persoalan nurani. Sebenarnya, sistem good governance itu sudah canggih, bahkan kemarin saya ke Belanda, juga diterapkan disana. Tapi kenapa di Indonesia kurang berhasil, karena persoalan nurani yang berbeda. Karena itu, kita coba kerjasamakan dengan Wahdah dan organisasi keagamaan lainnya," kata Irman, usai peresmian Masjid Rabbani Badan Diklat Sulsel, Rabu (1/6).

Irman mengungkapkan, sekarang ada mata kuliah Service by Heart di Badan Diklat Sulsel. "Intinya, manusia itu harus tahu, bagaimana kalau misalnya dia hidup tanpa orang lain, atau bagaimana jika hidup dengan orang lain. Dengan begitu, dia bisa melayani dengan baik. Itulah yang hilang sekarang," ujarnya.

Sementara, Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo, mengapresiasi upaya Badan Diklat Sulsel yang bekerjasama dengan Wahdah Islamiyah, agar semua peserta diklat dilatih baca tulis Al Quran. Menurutnya, langkah tersebut merupakan trend baru yang harus didorong di era yang serba maju dan modern seperti sekarang ini.

"Kita harus punya moralitas yang dibungkus dengan pendidikan agama yang kuat. Tanpa itu, kita bisa terbawa arus globalisasi yang akhirnya membuat kita tidak punya konsepsi diri yang kuat. Saya kira, Badan Diklat di Sulsel mencoba meramu itu," kata Syahrul.

Syahrul menambahkan, Badan Diklat Sulsel tidak hanya berupaya membangun kecerdasan visual dan intelektual, tapi kecerdasan moralitas dan ibadah. Bahkan, beberapa silabus diklat dikaitkan dengan pengejawantahan secara konkrit terhadap agama, baik itu Islam atau Kristen dan agama lainnya. 

Badan Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Sulsel mewajibkan baca tulis Al Quran bagi Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang mengikuti Diklatpim dan CPNS yang mengikuti diklat prajabatan. Jika tidak bisa baca tulis Al Quran, maka siap-siap kembali untuk mengulang.

Kepala Badan Diklat Sulsel, Irman Yasin Limpo, mengatakan, pihaknya menggandeng Wahdah Islamiyah dan beberapa organisasi keagamaan lainnya, untuk memberikan pendidikan nurani kepada peserta diklat, termasuk baca tulis Al Quran bagi yang beragama Islam. Menurutnya, sistem good governance yang sudah canggih kurang berhasil diterapkan di Indonesia, karena ada persoalan nurani.

"Kami di Badan Diklat Sulsel khususnya, mau memainstreamkan persoalan nurani. Sebenarnya, sistem good governance itu sudah canggih, bahkan kemarin saya ke Belanda, juga diterapkan disana. Tapi kenapa di Indonesia kurang berhasil, karena persoalan nurani yang berbeda. Karena itu, kita coba kerjasamakan dengan Wahdah dan organisasi keagamaan lainnya," kata Irman, usai peresmian Masjid Rabbani Badan Diklat Sulsel, Rabu (1/6).

Irman mengungkapkan, sekarang ada mata kuliah Service by Heart di Badan Diklat Sulsel. "Intinya, manusia itu harus tahu, bagaimana kalau misalnya dia hidup tanpa orang lain, atau bagaimana jika hidup dengan orang lain. Dengan begitu, dia bisa melayani dengan baik. Itulah yang hilang sekarang," ujarnya.

Sementara, Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo, mengapresiasi upaya Badan Diklat Sulsel yang bekerjasama dengan Wahdah Islamiyah, agar semua peserta diklat dilatih baca tulis Al Quran. Menurutnya, langkah tersebut merupakan trend baru yang harus didorong di era yang serba maju dan modern seperti sekarang ini.

"Kita harus punya moralitas yang dibungkus dengan pendidikan agama yang kuat. Tanpa itu, kita bisa terbawa arus globalisasi yang akhirnya membuat kita tidak punya konsepsi diri yang kuat. Saya kira, Badan Diklat di Sulsel mencoba meramu itu," kata Syahrul.

Syahrul menambahkan, Badan Diklat Sulsel tidak hanya berupaya membangun kecerdasan visual dan intelektual, tapi kecerdasan moralitas dan ibadah. Bahkan, beberapa silabus diklat dikaitkan dengan pengejawantahan secara konkrit terhadap agama, baik itu Islam atau Kristen dan agama lainnya. 

Rabu, 1 Juni 2016 (Dw/Na)

Register For Vote