Begini Penjelasan Dirut RS Labuang Baji Terkait Ratusan Massa Mengambil Paksa Almarhum Terindikasi Covid

blog-detail.jpg

Direktur Utama Rumah Sakit Labuang Baji, Mappatoba menegaskan insiden pengambilan jenasah pasien atas nama Muhammad Yunus yang beralamat dijalan rajawali pada tanggal 5 Juni lalu dengan ada indikasi covid-19, berjalan begitu cepat.

"Jadi kronologinya pasien atas nama Muhammad yunus umur 49 tahun masuk dan Dirawat dirumah sakit labuang baji pada tanggal 4 juni lalu dengan keluhan sesak dan nyeri dada, sehingga sesuai standar operasional prosedur (SOP) maka dilakukan pemeriksaan laboratorium dan hasilnya ada indikasi inveksi yang mengarah ke covid-19 jadi dirawat diruang isolasi,"ungkap Mappatoba belum lama ini. 

Ia menjelaskan pasien rencananya akan dilakukan pemeriksaan Swab pada pagi harinya tanggal 5 juni ,namun meninggal dunia, dan tidak berlansung lama sekitar pukul 9.45 pagi ratusan massa lansung masuk keruang perawatan dan mengambil almarhum. 

"Jam 9 pagi pasien meninggal dan sesuai prosedur tetap dilakukan swab dan segera disampaikan ke tim gugus tugas, namun sekitar jam 9,45 pagi, kami kaget, tiba-tiba massa yang berjumlah sekitar 100 orang langsung masuk ke dalam ruang perawatan dan mengambil jenasah, bahkan tidak mengubris anak almarhum yang menjaga,"jelasnya.

Mappatoba lebih jauh mengaku massa yang membawa almarhum bahkan membawa branker serta wadah tempat penampungan swab dan kemudian ditemukan petugas dijalan. 

"Pada saat kejadian kami sudah menghubungi pihak babinsa dan polsek setempat, tapi karena berjalan begitu cepat,massa bahkan membawa branker dan tempat penampungan swab dan baru ditemukan dijalan oleh petugas,"imbuhnya.

Direktur Rs Labuang Baji menambahkan,peristiwa ini pertama kali terjadi sejak tanggal 18 maret lalu telah banyak merawat pasien baik, PDP, ODP maupun positif dan sudah banyak yang dinyatakan sembuh setelah hasil swab sebanyak dua kali. 

"Sekali lagi sesuai protap,kami telah menghubungi Gubernur sulsel termasuk tim gugus tugas untuk menelusuri alamat almarhum untuk dilakukan penanganan lebih lanjut,"tambahnya.

"Atas kejadian ini kami tentunya tetap melakukan perawatan pasien dari manapun serta meminta penambahan petugas pengamanan baik TNI,Maupun kepolisian,karena kasian dokter dan perawat yang betugas bisa pengaruhi psikologinya,apa lagi RS Labuang baji adalah RS pusat rujukan nasional,"tutupnya.

Minggu (7 Juni 2020) Kominfo

Register For Vote