Wagub Sulsel Pimpin Rakor Diseminasi Kajian Banjir DAS Baliase dan Kolaborasi Penanganan

blog-detail.jpg

Wakil Gubernur Sulsel,  Andi Sudirman Sulaiman memimpin Rapat Koordinasi Diseminasi Kajian Banjir DAS Baliase Dan Kolaborasi Penanganan,di Ruang Rapat Pimpinan, Kantor Gubernur Sulsel Jumat, 24 Juli 2020.

Wagub Sulsel,  Andi Sudirman Sulaiman mengaku pembukaan lahan, perambahan hutan termasuk kegiatan yang dapat mengganggu keseimbangan alam dan bisa menjadi penyebab bencana alam. 

"Kita harus sadari bersama bahwa pembukaan lahan, perambahan hutan termasuk bentuk secara keilmuan yang mengganggu keseimbangan alam dan menjadi salah satu penyebab terjadinya bencana alam,"ungkap Andi Sudirman. 

Ia menyebutkan pada peristiwa banjir bandang di luwu utara ada banyak ditemukan kayu bekas potongan mesin karena rapi serta citra satelit di Google earth juga terlihat ada alih fungsi lahan dari tahun ke tahun.

"Kita lihat dihilir sungai, kayu ada banyak juga bekas potongan mesin karena rapi. Citra satelit di Google earth juga terlihat ada alih fungsi lahan dari tahun ke tahun. Luwu Utara sensitif terhadap perubahan keseimbangan yang mudah berujung bencana,sehingga Kita harus bijak dalam kebijakan,"sebutnya. 

Wagub sulsel lebih jauh mengaku dari hasil pandangannya,semua kesimpulannya harus menunggu dari kajian pusat. 

"Anyway, kita tunggu kajian pusat sebagai kesimpulan nantinya,"pungkasnya. 

Orang Nomor dua disulsel ini menambahkan, perlu segera dilakukan langkah dalam membenahi hutan di Sulsel termasuk membuat sistem keseimbangan atau memperbaiki hutan dan DAS.

"Kita harus berfikir apa yang harus kita lakukan sekarang untuk jangka panjang.
Jangan pernah bermain main dengan hutan, jika kita bermain main sama halnya kita bermain dengan nyawa manusia,"tambahnya. 

"Diperlukan master plan untuk sistem kehutanan di Sulsel,melalui intevensi kebijakan dan sinergitas,dan langkah pemulihan,"tutupnya. 

Sementara itu Kepala Pusat Pengendalian Pembangunan Ekoregion (P3E) Sulawesi Maluku Darhamsyah dalam analisanya menyampaikan bahwa banjir bandang di Luwu Utara diawali oleh longsor yang diduga karena tingginya aktivitas pelapukan serta tingginya curah hujan

"Banjir bandang di lutra diawali kejadian longsor tepatnya di hulu DAS Baliase, karena tingginya aktivitas pelapukan serta tingginya curah hujan."kata Darhamsyah. 

Ia menjelaskan solusi yang bisa dilakukan adalah pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup (RPSDALH) terkait mitigasi banjir dan longsor berbasis ekoregion pada DAS Baliase.

"Solusi yang diberikan kemudian adalah RPSDALH terkait mitigasi banjir dan longsor berbasis ekoregion pada DAS Baliase.Kita juga merencanakan pembuatan gully plug sebanyak 245 unit dan pembuatan bibit desa (kebun bibit desa) sebanyak 7 unit  di wilayah DAS Baliase,"pungkasnya.

Sabtu, 25 Juli 2020 Diskominfo

Register For Vote