Tidak kurang dari 125 ribu anak se-Sulsel dinobatkan sebagai agen perubahan. Gerakan 1.000 Titik Anak Sebagai Agen Perubahan dicanangkan di SD Pertiwi Makassar, Senin (17/10/2016).

Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana, Andi Murlina, mengatakan, pencanangan tersebut dilatarbelakangi jumlah kekerasan anak di Sulsel yang cenderung meningkat. Kondisi tersebut mengharuskan semua bergerak bersama untuk menekan kekerasanterhadap anak.

"Derasnya arus globalisasi memunculkan fenomena lunturnya karakter positif bagi anak Sulsel. Karena itu, kami berinisiatif menjadikan anak sebagai agen perubahan," ujarnya.

Dalam gerakan tersebut, pihaknya melibatkan partisipasi aktif seluruh kabupaten/kota, 1.200 titik dan 125 ribu anak untuk melakukan kampanye menolak kekerasan terhadap anak. Sejauh ini, antusiasme pemkab/pemkot sangat tinggi dan semua melakukan pencanangan secara serentak.

"Kami ingin menyebarkan virus anti kekerasan terhadap anak dan anti korupsi berbasis anak," tegasnya.

Sementara, Pelaksana Harian Kepala Biro Humas Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Yayuk Andarwati Iskak, mengatakan, pencegahan korupsi harus dilakukan sejak dini dan berbasis anak-anak. KPK sangat mendukung gerakan anak sebagai agen perubahan.

"Gerakan pencegahan sama pentingnya dengan penindakan. Kami juga menggagas perempuan anti korupsi," ungkapnya.

Ia berharap, dalam setiap keluarga ada satu orang yang paham apa itu korupsi sehingga bisa membentengi anggota keluarga lainnya. Gerakan perempuan antikorupsi sudah digagas sejak dua tahun lalu, dimana ada 700 agen di 33 provinsi.

"Minimal kita bisa menjadi teladan untuk anak-anak kita," kata Yayuk.

Dalam sambutannya, Syahrul mengapresiasi program yang menjadikan anak-anak menjadi agen perubahan dalam mencegah kekerasan dan korupsi.

Syahrul mengatakan, gerakan tersebut bertujuan agar bisa mencegah kekerasan terhadap anak. Karena itu, proses-proses membuat orang cerdas harus dilakukan.

"Itulah tugas kita sebagai pendidik dan pejabat. Kerja yang lebih baik, tulus, dan modern. Kita menjadi bagian yang dibutuhkan negara. Gerakan pencanangan ini memperkuat hal tersebut," kata Syahrul.

Ia menegaskan, program tersebut tidak dilebih-lebihkan. Bukan program yang muluk-muluk, tapi mudah, realistis, dan targetnya bisa dicapai. "Kedepan saya akan evaluasi lagi, bagaimana anak-anak kita ini menjadi agen perubahan," ujarnya.

"Orang yang melakukan korupsi itu bukan orang bisa diandalkan, dan menjadi penyakit di negara kita. Masalah korupsi masalah kepentingan negara, rakyat, dan masa depan bangsa. Terimakasih tokoh-tokoh perempuan, yang telah menghadirkan sebuah gagasan anak-anak menjadi agen perubahan," ujar Syahrul.

Pada kesempatan itu, Gubernur Sulawesi Selatan, Syahrul Yasin Limpo memantau langsung gerakan ini melalui Video Call di 24 Kabupaten/Kota.

Senin, 17 Oktober 2016 (Dw/Hn)