Makassar, sulselprov.go.id - Penguatan nilai spiritual kembali menjadi perhatian dalam Ramadhan Leadership Camp (RLC) 2026 Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan. Pada sesi Spiritual Leadership, Rabu, 25 Februari 2026, materi edukasi keislaman tentang Iman kepada Hari Akhir disampaikan oleh Dr. Mudzakkir M. Arif, Lc., MA.
Dr. Mudzakkir yang juga Pimpinan Pesantren Darul Istiqamah Bulukumba dan pengurus Majelis Ulama Indonesia Provinsi Sulawesi Selatan periode 2021–2026 itu menegaskan bahwa iman kepada hari akhir bukan sekadar konsep teologis, tetapi fondasi moral yang berdampak langsung pada perilaku sosial dan integritas seseorang.
Dalam paparannya, ia menjelaskan definisi operasional iman kepada hari akhir sebagai pembenaran yang pasti tanpa keraguan terhadap seluruh kabar yang disampaikan Allah dan Rasul-Nya mengenai peristiwa setelah kematian.
Ia mengawali pertanyaan apa perbedaan antara hari akhir dengan akhirat kepada peserta.
“Hari akhir dan akhirat sama, tetapi akhirat lebih luas dari hari akhir. Akhirat dimulai sejak kematian, sejak wafat, sebelum dikuburkan sudah masuk akhirat. Hari akhir adalah hari kebangkitan dan semua rentetan peristiwa hari bangkit yang berakhir di surga atau neraka yang kekal abadi,” jelasnya setelah mendengarkan jawaban para peserta.
Dipaparkan bahwa cakupan peristiwa tersebut meliputi alam kubur—termasuk pertanyaan malaikat, nikmat dan azab—tanda-tanda kiamat seperti tiupan sangkakala, kebangkitan, padang mahsyar, syafaat, hisab (perhitungan amal), mizan (timbangan amal), hingga keputusan akhir berupa surga dan neraka.
Menurutnya, iman kepada hari akhir merupakan rukun iman kelima dari enam rukun iman yang wajib diyakini setiap Muslim. Namun, iman tidak boleh berhenti pada aspek pengetahuan.
“Semakin baik pemahaman dan penghayatan kita dengan hari akhir maka semakin baik dan efektif iman seseorang,” tegasnya.
Ia menekankan bahwa iman harus dibangun di atas ilmu yang sahih, bukan sekadar ikut-ikutan. Karena itu, ia mendorong peserta memperdalam pemahaman melalui surah-surah dalam Juz 29 dan 30 Al-Qur’an yang banyak mengulas tentang hari pembalasan.
Lebih jauh, ia mengaitkan keyakinan tersebut dengan praktik keseharian, terutama bagi aparatur sipil negara (ASN). Iman yang benar, kata dia, harus dibuktikan dengan ketaatan nyata, seperti memudahkan urusan orang lain, menjaga lisan dari dosa, menjauhi kezaliman, serta memperbaiki kualitas salat.
“Setiap kali kita shalat kita harus mengingat hari akhir, kita mesti mengingat kematian, mengingat kebangkitan, surga dan neraka. Setiap kali kita baca Quran, berdzikir atau apapun yang kita lakukan, sambung hari dengan yaumul akhir,” pesannya.
Melalui sesi ini, diharapkan ASN Pemprov Sulsel tidak hanya unggul secara profesional, tetapi juga kokoh secara spiritual, sehingga mampu menghadirkan pelayanan publik yang berintegritas dan berorientasi pada kemaslahatan masyarakat. (*)