Gubernur Sulawesi Selatan, H. Syahrul Yasin Limpo mengatakan bela negara saat ini sangatlah penting terutama di era globalisasi dan digital. Ini dilakukan untuk membekali rakyat tentang bagaimana berbangsa dan bernegara.
Ia menyebutkan bela negara adalah suatu kewajiban yang diatur dalam filosif bernegara dimanapun. Ini menjadi penting dilakukan sehingga tidak akan terpengaruh paham dari luar.
"Kalau tidak dilakukan maka apa yang kita pahami mengenaii Pancasila, Bhineka Tunggal Ika bisa saja terprovokasi dan memecah belah negara. Olehnya itu hari ini komitmen terhadap bela negara tentu saja harus direspon oleh kita semua."Kata Syahrul, saat membuka Simposium dalam rangka HUT TNI ke-71 Tahun 2016 di Hotel Clarion Makassar, Selasa (4/10/2016).
Mengenai koordinasi, mengantisipasi paham yang masuk, Syahrul menjelaskan ini menjadi satu tantangan bukan cuma di Sulsel atau Indonesia, tapi di seluruh dunia. Oleh karena itu memahami ancaman tersebut hanya dengan cara menyamakan cara pandang, tentang wawasan kebangsaan, yang hadir pada anak-anak kita, pada siapapun termasuk para pejabat.
"Cinta tanah air menjadi kunci, pancasila harus jadi hal yang masuk dalam pikiran, dalam lanhgkah dan hati semua anak bangsa. Kalau ini hadir, tentu saja ancama digital, Internet akan bisa kita minimalisir,"paparnya.
Pangdam VII Wirabuana Mayjen TNI Agus, S.B mengucapkan terima kasih pada masyarakat Sulsel yang komitmen pada bela negara dan cinta tanah air. Ini menjadi kekuatan dasar yang menjadi pondasi bagi keamanan, ketertiban, dan kesejahteraan masyarakat dan bangsa Indonesia.
Sementara mengenai HUT TNI, Agus mengatakan tidak akan melakukan upacara yang mewah dan besar. "Kami akan menggali kearifan lokal, serta menggali nilai budaya bangsa, nilai masyarakat sulawesi sebagai kekayaan lokal yang akan menjadi kekuatan nasional dalam mempertahankan NKRI,"paparnya.
Selasa, 4 Oktober 2016 (Srf/Er)