MAKASSAR - Indonesia memiliki potensi perikanan yang cukup tinggi, yang terutama ditopang oleh tingginya produksi ikan (tangkap dan budidaya) di Kawasan Timur Indonesia (KTI). Namun, produksi tersebut masih jauh dibawah potensi.

Hal tersebut terungkap dalam Diseminasi Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Periode Agustus 2016, yang dilaksanakan Bank Indonesia (BI), di Hotel Four Points by Sheraton, Rabu (14/9/2016). Selain menghadirkan Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo sebagai Keynote Speaker, Diseminasi tersebut juga menghadirkan Kepala Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi Sulsel Alfiker Siringoringo dan pakar ekonomi nasional Dr Mohamad Ikhsan Modjo, sebagai narasumber.

Kepala Perwakilan BI Sulsel, Wiwiek Sisto Widayat, mengungkapkan, produktifitas serta nilai produksi perikanan KTI, baik tangkap dan budidaya merupakan yang tertinggi dibanding wilayah lainnya yang terkonsentrasi di Sulsel, NTT, Maluku, dan Sulteng. Tetapi, belum tercermin pada Nilai Tukar Petani (NTP) perikanan yang masih relatif rendah, khususnya pada perikanan budidaya.

"Produksi perikanan KTI masih terkonsentrasi pada low value fish antara lain demersal dan rumput laut, sehingga ekspor KTI relatif bernilai lebih rendah dibanding kawasan lainnya dengan mayoritas ekspor pada komoditas udang atau high value fish," jelas Wiwiek.

Menurut Wiwiek, kekayaan maritim Indonesia yang belum terutilisasi terkendala pada minimnya infrastruktur pendukung, khususnya pelabuhan perikanan dibanding negara-negara maritim lainnya. Selain itu, perlengkapan kapal perikanan Indonesia juga masih berkapasitas kecil. Disamping itu, masih terdapat defisit kebutuhan cold storage yang cukup besar di seluruh Indonesia.

"Rencana pembangunan cold storage hingga 2019 belum mampu memenuhi defisit kebutuhan cold storage optimum. Usaha peningkatan kemaritiman juga terkendala pada minimnya sumber daya manusia yang ahli dalam bidang kemaritiman. Minimnya sekolah pendidikan kemaritiman, serta minat kerja sektor kemaritiman menyebabkan supply tenaga kerja maritim langka," terangnya.

Wiwiek menambahkan, untuk meningkatkan kemampuan suplai kapal, pemerintah telah menyusun roadmap peningkatan industri perkapalan. Pelabuhan dengan kinerja terbaik di KTI adalah pelabuhan di Makassar.

Sementara, Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo, mengatakan, sektor maritim sangat luas untuk dikembangkan. Di Sulsel, pemerintah provinsi juga berkonsentrasi untuk membangun sektor maritim, termasuk membangun kemampuan nelayan agar bisa menangkap ikan dengan lebih modern. 

"Untuk mewujudkan hal ini, kita memang membutuhkan perbankan untuk memback up. Di sektor apa saja, Sulsel harus jadi lokomotif, mampu menerobos tantangan yang ada. Ini bagian dari tanggung jawab kita bersama," kata Syahrul.

Rabu, 14 September 2016 (Dw/Er)