Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam), Luhut Pandjaitan akan menjadikan pertemuan akbar TNI-Polri, pemerintah dan tokoh masyarakat sebagai pilot project untuk dilaksanakan di daerah lain di Indonesia.
Menurut Luhut, semangat masyarakat yang didukung oleh pemerintah, Polri dan TNI sungguh luar biasa dalam menangkal aksi radikalisme di Indonesia.
Ia tidak menduga kalau peserta yang hadir pencapai 12.000 orang. Menindak lanjuti pertemuan akbar itu, Luhut akan melaporkan ke Presiden RI Joko Widodo.
"Saya fikirnya cuma 600 sampai 700 orang. Tapi ini sangat luar biasa, diluar dari dugaan saya. Akan saya laporkan ke Presiden," kata Luhut saat menyampaikam orasinya di Celebes Convention Centre (CCC), Rabu (3/2/2016)
Luhut menyampaikan 2 persoalan yang perlu penangkalan secara bersama-sama, yaitu narkoba dan teroris. kedua hal itu merupakan sumber manajemen kebiadaban.
Ia menambahkan, konflik dengan isu teroris yang selalu membawa misi doktrin Islam secara radikal membuat ratusan ribu korban berjatuhan di negara Suriah dalam kurun waktu 3 tahun belakangan ini.
Ia menyebutkan negara Indonesia pun sempat dikejutkan dengan ledakan bom di Sarinah Jakarta Pusat, yang dilakukan oleh teroris bulan lalu. Untungnya, dalam hitungan menit pihak kepolisian dapat mensterilkan lokasi kejadian tersebut. Hal ini menjadi sebuah prestasi Polri yang mendapatkan pengakuan dari berbagai negara di dunia.
Luhut menyebutkan, salah satu faktor bergabungnya seseorang dalam aksi radikalisme adalah karena persoalan ekonomi.
"Salah satu pelaku bom Sarinah yang ditembak mati diketahui memiliki ekonomi menengah ke bawah," kata Luhut.
Luhut menjelaskan 2 pendekatan yang dapat dilakukan untuk menangkal aksi radikalisme di Indonesia, yaitu soft approach dan hard approach.
Keterlibatan tokoh agama dan para ulama untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang bahaya teroris adalah bagian dari soft approach. Selain itu, dapat dilakukan pendekatan keluarga, sosial, keagamaan dan penggunaan teknologi dengan baik.
Saat ini, ancaman narkoba di Indonesia semakin mengkhawatirkan. Data saat ini pengguna narkoba di Indonesia mencapai 5,9 juta orang.
Luhut mengatakan, 60 persen pengguna narkoba tersebut sudah berada dalam penjara. Namun demikian, 75 persen tahanan masih mengendalikan peredaran narkoba dari Rutan dan Lapas.
"Inilah alasan pengedar narkoba harus dihukum dan pecandu narkoba akan direhabilitasi," pungkasnya.
Sementara, Gubernur Sulsel, DR. H. Syahrul Yasin Limpo, SH., M.Si., MH kembali menegaskan bahwa islam itu bukan terorisme karena Islam cinta damai, saling menghargai, tolong menolong, hanya oknum tertentu yang memanfaatkannya.
“Persoalan terorisme dan radikalisme adalah musuh bersama yang harus bisa dilawan”,ungkap Syahrul.
Rabu, 3 Februari 2016 (Srf/Na)