Tingkat inflasi Sulsel turun 50 persen pada tahun 2015. Pada tahun 2014 inflasi Sulsel 8,61 persen, turun menjadi 4,48 persen di tahun 2015.
Kepala Perwakilan BI Sulsel, M Dadi Aryadi, mengatakan, pihaknya telah melaporkan kepada Wakil Gubernur Sulsel Agus Arifin Nu'mang, terkait pengendalian inflasi di daerah Sulsel yang berjalan dengan baik. Hasil inflasi Sulsel untuk tahun 2015 adalah 4,48, lebih tinggi dari nasional, namun terjadi penurunan sekira 50 persen dibanding tahun sebelumnya.
"Di Sulsel ini ada lima zona dalam menilai inflasi, dan semua zona itu turun dengan signifikan. Yang terendah itu Kabupaten Bone dari 9 menjadi hanya 0,097. Yang kedua adalah Bulukumba kemudian di Parepare, kemudian yang masih tinggi itu ada di Makassar itupun juga turun dari 8 menjadi 5,4. Ini adalah upaya semua pihak yang terhimpun di Tim Pengendali Inflasi Daerah atau TPID, sehingga faktor-faktor yang menyebabkan inflasi, yang sebagian besar ada di volatile food atau makanan," terang Dadi usai bertemu Wakil Gubernur Sulsel, Ir. H. Agus Arifin Nu'mang, MS, Rabu (20/1).
Ia mengungkapkan, tersisa dua komoditi yang mempengaruhi inflasi Sulsel, yakni beras dan bandeng. Tapi, sudah jauh menurun dari tahun-tahun sebelumnya. Sehingga, bisa dikatakan bahwa secara umum inflasi Sulsel sudah masuk dalam jangkar nasional 4 persen, sementara Sulsel 4,48 persen.
"Kita masih didukung pertumbuhan ekonomi yang masih tinggi, 7,43 persen. Memang kita harapkan, pertumbuhan ekonomi ini tidak dibarengi dengan inflasi yang tinggi, sehingga dampaknya kepada masyarakat, khususnya daya beli masyarakat juga bagus," ujarnya.
Sementara, Wakil Gubernur Sulsel, Agus Arifin Nu'mang, mengungkapkan, untuk membahas inflasi dan pertumbuhan ekonomi Sulsel, pihaknya sudah mengagendakan pertemuan dengan TPID dan seluruh stakeholder terkait. Tahun 2015, inflasi Sulsel turun lebih dari 50 persen.
"Perekonomian Sulsel masih baik. Kelihatannya, uang yang beredar di Sulsel juga meningkat sekitar 350 triliun sekarang. Saya kira, pendapatan per kapita masyarakat sudah Rp40 juta, meskipun belum ada data pasti yang keluar. Perlambatan ekonomi memang membuat nilai ekspor kita turun, tapi kuantitas ekspor kita meningkat. Secara keseluruhan, ekonomi kita bagus," kata Agus.
Rabu, 20 Januari 2016 (Srf/Na)