Wakil Gubernur Sulsel, Ir. H. Agus Arifin Nu'mang, MS mencanangkan pembentukan Satuan Tugas (Satgas) Kontra Terorisme, Radikalisme, dan Narkoba, serta Satgas Sulsel Melayani, Tertib, dan Bersih di 1.000 titik di Sulsel. Pencanangan dilakukan secara serentak di 24 kabupaten/kota, 100 kecamatan, dan 900 desa dan kelurahan.

"Kegiatan ini adalah salah satu antisipasi untuk mengantisipasi ancaman terorisme, radikalisme, dan penggunaan narkotika dan obat terlarang yang cenderung meningkat se Sulsel. Karena itu, dalam rangkaian peringatan HUT Sulsel, salah satu program yang dicanangkan adalah bagaimana kita mengantisipasi hal tersebut dengan membuat Satgas Kontra Terorisme, Radikalisme, dan Narkoba.

Disamping itu juga ada satgas dalam rangka peningkatan pelayanan aparat pemerintah terhadap masyarakat," kata Agus, usai pencanangan di Lapangan Upacara Kantor Gubernur, Senin (10/10/2016).

Agus berharap, apa yang dicanangkan bisa dilaksanakan juga di kabupaten/kota karena intinya ada di daerah. Pemerintah daerah yang bersangkutan langsung dengan masyarakat, sedangkan pemerintah provinsi hanya mendorong hal tersebut.

"Dimana-mana, narkotika bukan persoalan Indonesia saja tapi masalah dunia. Kita juga di Sulsel harus antisipasi agar jangan terus menyebar ke lingkungan masyarakat, apalagi sisi geografis Sulsel di tengah, sangat rawan untuk dilintasi narkotika. Begitupun juga dengan teroris dan paham-paham radikalisme harus terus kita waspadai. Ini bukan tugas pemerintah saja dan aparat, tetapi tugas kita semua termasuk masyarakat," terangnya.

Ia pun mengimbau tokoh masyarakat, agama dan tokoh adat, untuk bersama-sama menjalankan atau mensukseskan program yang baru dicanangkan tersebut. 

Sementara, Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol), Asmanto Baso Lewa, menambahkan, Sulsel merupakan pintu sekaligus jalur transportasi yang terbuka di Kawasan Timur Indonesia (KTI). Sulsel sebagai tempat perlintasan aktifitas ekonomi dan perdagangan, sangat memungkinkan menjadi tempat para penganut paham radikal bisa mengganggu kondisi atau situasi trantibmas.
"Satgas ini dibentuk dalam rangka mendorong agar elemen masyarakat bahu membahu, bersama-sama untuk mengantisipasi dini aktifitas atau paham radikalisme di Sulsel," kata Asmanto.

Ia mengungkapkan, secara khusus tidak ada paham radikalisme atau terorisme yang dideteksi, tapi Sulsel menjadi perhatian semua pihak. Apalagi, ada beberapa aktifitas radikalisme di perbatasan, misalnya di Poso dan Kalimantan, sehingga seluruh wilayah Sulsel menjadi perhatian untuk melakukan pemetaan dan deteksi dini. 

"Satgas dibentuk untuk memperkuat komunikasi yang terjalin selama ini. Para kepala desa, lurah, menjadi ujung tombak untuk memberikan informasi yang akurat terkait beragam aktifitas yang ada di masyarakat," jelas Asmanto.

Senin, 10 Oktober 2016 (Dw/Hr)