Komuditas kakao di Sulawesi Selatan merupakan komuditas ekspor dengan kontribusinya kepada PDRB Sulsel cukup tinggi dan menduduki urutan ke 2 setelah nikel. Komuditas Kakao merupakan sendi perekonomian yang berbasis pada ekonomi kerakyatan karenasekitar 257.728 kepala keluarga petani sangat menggantungkan hiduponya pada hasil komuditas tersebut.
Demikian diungkapkan Wakil Gubernur Sulsel, Ir.H.Agus Arifin Nu’mang, MS saat membuka Pertemuan Apresiasi Percepatan Pemulihan Produksi Kakao di Hotel Singgasana Makassar, Rabu (10/8).
Menurut Agus, kebijakan unum pembangunan Sulsel hingga tahun 2018 adalah akselerasi pembangunan ekonomi kerakyatan melalui berbagai terobosan salah satunya adalah Program Percepatan Pemulihan Produksi Kakao di Sulsel.
“Dalam perjalanan percepatan pemulihan produksi Kakao tidak mudah untuk meraih target, namun beberapa kendala atau rintangan dapat kita benahi dan harmonisasikan secara bersama,”jelas Agus.
“Program ini diharapkan dapat berkontribusi nyata dalam membangun Sulsel menjadi pilar utama pembagunan nasional dan penghasil kako terbesar di Indonesia,”imbuhnya.
Saat ini Prov. Sulsel tengah membangun industri pengolahan coklat sehingga kakao asal daerah ini tidak hanya diproduksi dalam bentuk gelondongan tetapi dapat juga diekspor dalam bentuk bahan jadi atau setengah jadi.
Rabu, 10 Agustus 2016 (Na/Yy)