Wakil Gubernur Sulawesi Selatan, Andi Sudirman Sulaiman dan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) RI, Doni Monardo memimpin Rapat Koordinasi tentang Penanganan Banjir Bandang dan Longsor di Sulawesi Selatan di Ruang Rapat Pimpinan Kantor Gubernur, Jumat (1/2/2019).

Dalam rapat tersebut Wagub meminta tim melakukan kerjasama penanggulangan dan melakukan survei terhadap penanganan bencana banjir yang terjadi pada tanggal 22 Januari lalu. 

Selain itu, juga akan dibentuk Satgas revitalisasi DAS Jeneberang yang dipimpin langsung oleh Gubernur Sulsel, bersama Wakil Satgas Pangdam XIV Hasanuddin dan Polda Sulsel yang melibatkan Instansi terkait seperti Dinas Kehutan, Dinas SDA dan Balai Besar Pengendali dan DAS-HL.

"Bagaimana tim ini bekerja ada survei selama sebulan untuk mencari data dan melihat, kemudian akan disupervisi oleh pusat, untuk pertemuan ini kita ada beberapa masukan," kata Andi Sudirman Sulaiman. 

Pada kesempatan ini juga Ia meminta masukan dari pimpinan daerah di wilayah terdampak, untuk kemudian dilaporkan kepada gubernur dan melakukan tindakan, termasuk masukan dari BNPB. 

"Paling tidak, dalam dua minggu kedepan apa yang harus kita lakukan," sebutnya. 

Sementara itu, Doni mengungkapkan besarnya dampak banjir di Sulsel disebabkan oleh galian tambang dan maraknya alih fungsi lahan.

"Melihat apa yang terjadi dalam dua pekan terakhirdi Sulsel, kita semua prihatin karena kerugian yang ditumbulkan luar biasa. Terdapat 69 orang meninggal dunia, 7 orang belum ditemukan, ribuan orang mengungsi dan belasan ribu lahan pertanian terdampak dan secara ekonomi kerugiannya besar," jelasnya. 

Termasuk persoalan alih fungsi lahan dan tambang galian. Ini diharapkan semuanya akan dapat diselesaikan berdasarkan ketentuan yang berlaku, aturan hukum dan teknologi.  

"Saya rasa, ada banyak pakar di Sulsel. Ada banyak perguruan tinggi yang memiliki kapasitas, untuk bisa membantu Pemerintah Provinsi sehingga banjir tidak menimbulkan kerugian yang besar," ujarnya. 

Doni juga membawa sejumlah ahli, misalnya yang berpengalaman pembibibitan, edukasi masyarakat, dan penataan bendungan. 

Dia juga menekankan pendekatan berdasarkan kearifan lokal. 

"Pendekatan kearifan lokal penting, pada teori tentang sosiologi dan morfologi, sehingga tidak ada resistensi pada masyarakat, karena kita hadapi masyarakat kita yang harus kita bimbing. Agar mereka tidak kehilangan mata pencarian dan ekosistem," pungkas Doni Monardo.

Jumat, 1 Februari 2019 (Srf/Na)