website resmi pemerintah provinsi sulawesi selatan http://sulselprov.go.id

Kamu PeDe atau Tidak?

  • 1426 pengunjung
  • 1953 hits
  • 24 Feb 2016

KALAU kamu punya komitmen yang kuat untuk terus maju dan kesadaran yang tinggi atas tanggung jawab tugasmu, maka kamu termasuk kategori orang PeDe (percaya diri). Kalau merasa ancaman dan tekanan di lingkungan sekitarmu dan tugasmu yang padat dan lain-lain, tetapi kamu masih bisa tertawa lepas, bisa bercanda dengan teman sejawatmu dan di rumah dengan anak-anak, istri, serta keluarga bisa tertawa bersama, maka kamu masih kategori orang PeDe.

      PeDe itu penting! Kalu kita punya komitmen yang kuat untuk terus maju dan memiliki kesadaran yang tinggi atas tugas dan tanggung jawab, maka kita termasuk kategori orang yang PeDe. Lagi pula, PeDe itu mencerminkan bila kita punya prinsip-prinsip hidup yang mantap, tidak ragu-ragu dalam mengambil sikap, dan yang pasti menjadi orang tidak minder. Orang yang PeDenya makin tinggi, dia makin poweful personaliy sehingga maki memiliki kemampuan memengaruhi oang lain, kharismanya makin kuat, auranya makin mantap, yang pada akhirnya bermuara dia disegani dan dihormati olehorang-orang yang mengenalnya.

      Untuk mengemalikan dan meningkatkan PeDe, kita mestilah kembali pada kunci sukses dan pemaknaan PAKUI yakni P (pray) sebagai permohonan doa kepada ilahi yang tentunya didasari shalat dan doa, A (attitude) sebagai sikap yang tentunya dengan adat serta tabiat yang baik. K (komitmen) dengan berpegang teguh pada janji yang telah dituturkan – jangan hanya berani mengumbar janji tanpa menepatinya -, U (usaha) yang artinya jangan diam saja tapi harus melakukan segala hal yang membuat kita sukses, I (imajinatif) yang menjadi tatakan awal menggapai impian sukses. Setelah kita jabarkan PAKUI,kita kemudian pasrah pada ilahi dan mengalir apa adanya. Insya Allah, kamu akan percaya diri Sangat PeDe!

 

                                                                              (Batam-Malang, 7 Juni 2014)

 

 

Terkait

    • 1468 pengunjung
    • 2240 hits
    • 22 02 2016

    Seorang panglima perang yang tangguh mengajak seluruh anak buahnya untuk merebut pulau. Setelah seluruh perahu bersandar di pantai pulau yang akan direbut, dia kemudian memerintahkan untuk membakar semua perahu yang ada di pantai “Don’t look back”-teriaknya itulah makna “the point of no return,” titik dimana tidak ada lagi kesempatan untuk kembali. Tekad itu merupakan suatu upaya menghadirkan keberanian karena meyakini kebenaran dan berjuang tanpa kata menyerah. Makanya, “don’t stop!” hingga berhasil merebut pulau tersebut.*

                                                                                                                                                    (5 Juli 2012)

    Selengkapnya.
    • 1433 pengunjung
    • 2141 hits
    • 22 02 2016

    Kalau kita berjalan danterus melangkah memperjuangkan kebenaran yang hendak diraih, maka satu-satunya peluang adalah terus melangkah dan menaklukkan apapun yang yang ada di hadapan kita. Bila ada jalan buntu, maka pilihannya hanya : 1) menerima apa adanya dan menyerah; serta 2) berpikira dan mengerahkan segala upaya menerobos dan menemukan jalan baru untuk menggapai tujuan. Apalagi, keadaan-keadaan mendesak justru menjadi kjreativitas dan motivasi untuk meraihnya, “Never give up” (tak pernah menyerah). Toh, kita berada pada posisi “the point of no return”. Maka, “Don‘t Stop, Komandan!”*

     

                                                                                                                                                    (5 Juli 2012)

    Selengkapnya.
    • 1498 pengunjung
    • 2280 hits
    • 22 02 2016

    Teman adalah jimat dan obat mujarab serta mampu menyembuhkan berbagai penyakit. Untuk itu, kita semua wajib menjaga pertemanan dan sebisa mungkin jangan dikecewakan. Toh, teman menjadi solusi terbaik kalau kita stress, teman adalah penasihat dan penular kebaikan, teman juga memberi dukungan saat kita susah dan membutuhkan pertolongan, teman bahkan menjauhkan kita dari masalah dan depresi. Bahkan, temanlah yang memperkuat dan mendukung semua cita-cita dan harapan kita. Makanya, mari kita perbanyak teman. Jaga sikap kita untuk keutuhan pertemanan. Kembangkan sikap mau membantu, antusias, berjiwa besar, dan selalu terbuka untuk saling memberi. Mari kita tidak saling mengecewakan teman. Dan kamu temanku, saya temanmu!*     

     

                                                                                                                                                                    (14 Juli 2012)

    Selengkapnya.

menu lainnya