website resmi pemerintah provinsi sulawesi selatan http://sulselprov.go.id

Berhenti Jadikan Uang Sebagai Kekuatan

  • 1433 pengunjung
  • 2093 hits
  • 24 Feb 2016

UANG  memang penting,tetapi bukan segala-galanya! Maka ketika pemimpin ditentukan oleh uang, maka di situlah akhir dari segalanya. Kini wacanaditangah masyarakat bahwa uang sebagai penentu suara / salah satunya pada pemilihan anggota legislatif dan pemilukada langsung – telah manghancurkan beragam sendi antara lain budaya sipakatau atau budaya saling menghargai.

      Pemilihan yang ditentukan oleh uang, itu sangat salh. Makanya, saya selalu berprinsip bahwa pemimpin adalah sesuatu hal yang mendekati kesempurnaan. Setidaknya, pemimpin harus memenuhi kriteria-kriteria dasar,  misalnya dia jujur, kepastiannya cukup, dia berani mengambil risiko, dan mampu mengomunisasikan pikiran dan program.

      Sekaran ini, tidak sedikit pemimpin yang ngomong saja susah. Tidak mampu menomunikasikan apa yang diinginkan rakyat, pikirannya sendiri, tak mampu berorasi secara baik agar orang lain mafhun akan apa yang dia bahas. Pemimpin seperti ini, tentulah takkan berhasil menyampaikan pesan yang ada di dalam batok kepalanya jika itu memang ada.

      Mengapa dikekinian banyak pemimpin yang tidak memiliki atau kurang akan kriteria-kriteria dasar? Jawabnya, bisa jadi karena dia terpilih tidak dengan seleksi yang baik. Salah satu penyebab seleksi yang salah itu jika uang menjadi prioritas pemengan-hal yang sangat salah! Padahal, rakyat yang suci itu mestinya tidak dinodai dengan iming-iming uang. Makanya, semua pihak yag berkaitan dengan pilihan, sepatutnya berhenti menjadikan uang sebagai kekuatan untuk mempengaruhi kemenangan.

      Memang, tak dapat dipungkiri bahwa kita tentulah berharap agar masyarakat kembali pada sikap leluhur yang tidak meterialistis dengan mengharapkan uang disetiap pemilihan. Hanya saja, setiap perilaku juga berkait dengan karakter dan nilai-nilai kebangsaan yang harus dihidupkan dengan baik. Kita suka atau tidak, mungkin ada persoalan pada jatidiri bangsa yang harus didorong agar pikiran yang neo-liberal dan serta matearialistis sehingga bersikap bahwa siapa yang bayar itu yang dipilih, bisa kita isolasi sedemikian rupa rupa sehingga tidak dominan di kepala semua orang.

      Sekarng siapa yang membayari semua pemilihan dan siapa yang punya uang, semuanya bersoal! Ini semua neolib. Kalaulah kita tidak berani mencegahnya, maka bisa saja negara kita dikuasai oleh negara lain yang mengucurkan dananya untuk mendorong rakyat memilih sesuai pilihan para pemodal. Makanya, semua pihak harus menyadari bahwa politik uang harus dihentikan!

 

 

(Makassar, 19 September 2014)

Terkait

    • 1358 pengunjung
    • 2125 hits
    • 22 02 2016

    Seorang panglima perang yang tangguh mengajak seluruh anak buahnya untuk merebut pulau. Setelah seluruh perahu bersandar di pantai pulau yang akan direbut, dia kemudian memerintahkan untuk membakar semua perahu yang ada di pantai “Don’t look back”-teriaknya itulah makna “the point of no return,” titik dimana tidak ada lagi kesempatan untuk kembali. Tekad itu merupakan suatu upaya menghadirkan keberanian karena meyakini kebenaran dan berjuang tanpa kata menyerah. Makanya, “don’t stop!” hingga berhasil merebut pulau tersebut.*

                                                                                                                                                    (5 Juli 2012)

    Selengkapnya.
    • 1321 pengunjung
    • 2027 hits
    • 22 02 2016

    Kalau kita berjalan danterus melangkah memperjuangkan kebenaran yang hendak diraih, maka satu-satunya peluang adalah terus melangkah dan menaklukkan apapun yang yang ada di hadapan kita. Bila ada jalan buntu, maka pilihannya hanya : 1) menerima apa adanya dan menyerah; serta 2) berpikira dan mengerahkan segala upaya menerobos dan menemukan jalan baru untuk menggapai tujuan. Apalagi, keadaan-keadaan mendesak justru menjadi kjreativitas dan motivasi untuk meraihnya, “Never give up” (tak pernah menyerah). Toh, kita berada pada posisi “the point of no return”. Maka, “Don‘t Stop, Komandan!”*

     

                                                                                                                                                    (5 Juli 2012)

    Selengkapnya.
    • 1384 pengunjung
    • 2170 hits
    • 22 02 2016

    Teman adalah jimat dan obat mujarab serta mampu menyembuhkan berbagai penyakit. Untuk itu, kita semua wajib menjaga pertemanan dan sebisa mungkin jangan dikecewakan. Toh, teman menjadi solusi terbaik kalau kita stress, teman adalah penasihat dan penular kebaikan, teman juga memberi dukungan saat kita susah dan membutuhkan pertolongan, teman bahkan menjauhkan kita dari masalah dan depresi. Bahkan, temanlah yang memperkuat dan mendukung semua cita-cita dan harapan kita. Makanya, mari kita perbanyak teman. Jaga sikap kita untuk keutuhan pertemanan. Kembangkan sikap mau membantu, antusias, berjiwa besar, dan selalu terbuka untuk saling memberi. Mari kita tidak saling mengecewakan teman. Dan kamu temanku, saya temanmu!*     

     

                                                                                                                                                                    (14 Juli 2012)

    Selengkapnya.

menu lainnya