website resmi pemerintah provinsi sulawesi selatan http://sulselprov.go.id

Jepang juga Punya Kekurangan

  • 2487 pengunjung
  • 2575 hits
  • 11 Apr 2016

Kita kira hebat sekali mi kalau semua sudah serba teratur, procedural, SOP, by protap seperti Jepang?  Hahaha. Menurut saya itu menjadi kelebihan dan sekaligus kekurangan Jepang.  Mengapa? Kalau tiba-tiba ada situasi yang tidak linear; tidak protap dan tidak teratur maka orang Jepang pasti bingung. Pasti bego dan tidak tahu harus berbuat apa.

Sebaliknya kita orang Indonesia mau teratur lebih bagus, tidak teratur …. Juga bisa berbuat. Kan memang biasa dengan situasi tiba masa tiba akal? Contohnya, orang Jepang terbiasa dengan keadaan yang linear; yang predictable, terbiasa dengan situasi yang kontinyu dan protap. Terbiasa dengan administrasi yang baik atau semua terencana dan tertata, bahkan punya time frame dan schedule yang ketat. Kalau ada situasi yang stagman atau ada kemacetan dan kegagalan system, orang Jepang langsung tak berdaya.

Misalnya hari ini dia rencanakan berkantor dari pukul 09.00 – 15.00. Setelah itu mencuci mobil pukul 15.00 – 16.00. Sesudah itu perbaiki atap rumah pukul 17.00 – 18.00 . Kalau tiba-tiba pada jam cuci mobil air tidak mengalir karena listrik padam, matilah orang Jepang! Duduk mami baca jadwalnya. Kalau orang Indonesia, hehe, kalau jamcuci mobil air tidak mengalir, perbaiki dulu atap rumah. Gampang mi itu cuci mobilnya, adapi kesempatan. Kalau perlu program bisa diubah setiap saat.  So …. Kalau begitu jangan kira system di Indonesia tidak memiliki kelebihan.

Kelebihannya, bisa ada toleransi dan demi persaudaraan boleh melakukan penyesuaian-penyesuaian. Artinya selain perencanaan ada, time schedule, hati nurani juga msih main. Contoh lagi di Indonesia Sofie terlambat dua menit karena ganti popok bayinya. Pesawat harus ditutup. Bagi kita di Indonesia bolehlah toleransi 10-15 menit.

Bagi Jepang, kalau ada penambahan dua-lima menit tidak boleh. Kalau harus ada pengunduran dari jadwal, petugas harus mencatat alasan apa sehingga pintu tidak ditutup dari menit satu ke menit dua, dan dari menit ke-dua ke menit ke-lima. Alasannya apa? Tidak sekedar karena toleransi pada penumpang tapi apa pembenaran dari keterlambatan sebagai rangkaian proses yang ter “SOP”. Namun satu yang saya akui dari orang Jepang adalah, mereka jujur,komitmen dan memegang janji, sopan dan hormat, ulet dan lain-lain. Ayo kita tiru yang baik-baik dari Jepang walaupun aku tetap cinta Indonesiaku.

18 Maret 2015

Terkait

    • 1555 pengunjung
    • 2258 hits
    • 22 02 2016

    Seorang panglima perang yang tangguh mengajak seluruh anak buahnya untuk merebut pulau. Setelah seluruh perahu bersandar di pantai pulau yang akan direbut, dia kemudian memerintahkan untuk membakar semua perahu yang ada di pantai “Don’t look back”-teriaknya itulah makna “the point of no return,” titik dimana tidak ada lagi kesempatan untuk kembali. Tekad itu merupakan suatu upaya menghadirkan keberanian karena meyakini kebenaran dan berjuang tanpa kata menyerah. Makanya, “don’t stop!” hingga berhasil merebut pulau tersebut.*

                                                                                                                                                    (5 Juli 2012)

    Selengkapnya.
    • 1503 pengunjung
    • 2161 hits
    • 22 02 2016

    Kalau kita berjalan danterus melangkah memperjuangkan kebenaran yang hendak diraih, maka satu-satunya peluang adalah terus melangkah dan menaklukkan apapun yang yang ada di hadapan kita. Bila ada jalan buntu, maka pilihannya hanya : 1) menerima apa adanya dan menyerah; serta 2) berpikira dan mengerahkan segala upaya menerobos dan menemukan jalan baru untuk menggapai tujuan. Apalagi, keadaan-keadaan mendesak justru menjadi kjreativitas dan motivasi untuk meraihnya, “Never give up” (tak pernah menyerah). Toh, kita berada pada posisi “the point of no return”. Maka, “Don‘t Stop, Komandan!”*

     

                                                                                                                                                    (5 Juli 2012)

    Selengkapnya.
    • 1588 pengunjung
    • 2303 hits
    • 22 02 2016

    Teman adalah jimat dan obat mujarab serta mampu menyembuhkan berbagai penyakit. Untuk itu, kita semua wajib menjaga pertemanan dan sebisa mungkin jangan dikecewakan. Toh, teman menjadi solusi terbaik kalau kita stress, teman adalah penasihat dan penular kebaikan, teman juga memberi dukungan saat kita susah dan membutuhkan pertolongan, teman bahkan menjauhkan kita dari masalah dan depresi. Bahkan, temanlah yang memperkuat dan mendukung semua cita-cita dan harapan kita. Makanya, mari kita perbanyak teman. Jaga sikap kita untuk keutuhan pertemanan. Kembangkan sikap mau membantu, antusias, berjiwa besar, dan selalu terbuka untuk saling memberi. Mari kita tidak saling mengecewakan teman. Dan kamu temanku, saya temanmu!*     

     

                                                                                                                                                                    (14 Juli 2012)

    Selengkapnya.

menu lainnya