website resmi pemerintah provinsi sulawesi selatan http://sulselprov.go.id

Lima Syarat Pemimpin

  • 1783 pengunjung
  • 2285 hits
  • 24 Feb 2016

KEBIJAKAN dan kebijakanbagai sisi mata uang yang saling mendukung. Dua hal ini pula yang menjadi penopang akan keberhasilan pemimpin ideal, khususnya pemimpin yang tidak lahir dari pendidikan seperti di era silam, antara lain lemhanas. Maka, bila muncul pikiran untuk memilih pemimpin yang berlatar pengusaha atau memang penguasa, itu adalah pilihan sulit untukmenilai yang terbaik.

      Yang pasti, keduanya bisa saja. Bisa lahir dari penguasa, bisa lahir dari penguasa.tergantung kebutuhan kepemimpin di tingkat apa dan seperti apa orientasi kepemimpina yang ada. Kalau dia berbau politis, saya kira dia membutuhkan pengalaman yang cukup. Kita mau pemimpin itu sudah teruji. Kita mau pemimpin itu dalam biografinya terdapat variabel-variabel keberhasilan yang secara jelas. Kita mau kepemimpinan itu adalah kepemimpinan yang menjangkau pendekatan-pendekatan ke depan, menjadi lingkungan strategis yang harus dipertimbangkan – katakanlah di Indonesia ini kita tidak bisa lepas bahwa besok ada “open sky 2015” di mana pendekatan se-asean yang harus menjadi perhatian. Kita mau kepemimpinan ke depan kita memiliki wawasan yang cukup seperti itu, tidak bisa lagi kepemimpinan yang misalnya, bapaknya dulu raja di situ maka dia berhak juga menjadi raja ditempat itu. Tidak lagi. Tetapi bagaimana kebutuhanan yang ada, ketersedian yang ada, sesuai kapabilitas.

      Saya selalu mengatakan bahwa ada lima syarat seorang pemimpin yang baik. Pertama, harus cerdas. Kalau cenderung goblok, sebenarnya tidak pantas. Tidak patut! Intinya, seorang pemimpin harus memiliki kecerdasan lebih dari rata-rata. Yang kedua, dia punya kemampuan yang bersih dari yang lain. Artinya dia teruji di turunanya juga bersih, tidak korupsi misalnya, kesehariannya dia pernah menjabat apa saja, kemudian tidak ada noda-noda pada dirinya yang mengganjal sebagai pemimpi.

      Ke tiga adalah kapabilitas. Dia mampu, cakap, pandai, yang bila merujuk ke teori pemikir bahwa kapabilitas adalah kemampuan atau kesanggupan yang dapat membuat sumber daya menjadi keunggulan bersaing. Intinya, bila dia memiliki kapabilitas yakni dia memiliki kemampuan untuk diterima – dia harus memiliki kapabilitas sehingga akseptabilitas.

      Ke empat adalah “courage enough”, yakni dia harus memiliki keberanian yang cukup yang selalu saya katakan bahwa berani itu kalu dia mempunyai cita-cita yang baik. Oleh karena itu dia tidak nekat-nekatan. Dia ukur betul bahwa dia cukup berani untuk mencapai sukses yang telah disiapkan. Yang kelima adalah dia seorang pemimpin ang punya daya jangkau yang baik dimana dia mampu mengomunikasikan beragam hal secara vertikal dan horisontal, bahkan kebawah dia bisa bicara dengan tukang becak, dia bisa bicara dengan menggunakan bahasa Inggris sebab komunikasi internasional pun dibutuhkan oleh pemimpin sekarang ini.

      Lima syarat pemimpin itulah yang dibutuhkan di kekinian agar kesuksesan yang dibutuhkan dan dikehendaki tercapai. Artinya, pemimpi yang memang terukur itu dengan kemampuan manajemen yang baik keinginan semua orang, termasuk pemimpin yang memang selalu menginginkan terbaik bagi rakyatnya.

 

                                                                                          (Makassar, 2 Agustus 2014)a

Terkait

    • 1705 pengunjung
    • 2275 hits
    • 22 02 2016

    Seorang panglima perang yang tangguh mengajak seluruh anak buahnya untuk merebut pulau. Setelah seluruh perahu bersandar di pantai pulau yang akan direbut, dia kemudian memerintahkan untuk membakar semua perahu yang ada di pantai “Don’t look back”-teriaknya itulah makna “the point of no return,” titik dimana tidak ada lagi kesempatan untuk kembali. Tekad itu merupakan suatu upaya menghadirkan keberanian karena meyakini kebenaran dan berjuang tanpa kata menyerah. Makanya, “don’t stop!” hingga berhasil merebut pulau tersebut.*

                                                                                                                                                    (5 Juli 2012)

    Selengkapnya.
    • 1624 pengunjung
    • 2175 hits
    • 22 02 2016

    Kalau kita berjalan danterus melangkah memperjuangkan kebenaran yang hendak diraih, maka satu-satunya peluang adalah terus melangkah dan menaklukkan apapun yang yang ada di hadapan kita. Bila ada jalan buntu, maka pilihannya hanya : 1) menerima apa adanya dan menyerah; serta 2) berpikira dan mengerahkan segala upaya menerobos dan menemukan jalan baru untuk menggapai tujuan. Apalagi, keadaan-keadaan mendesak justru menjadi kjreativitas dan motivasi untuk meraihnya, “Never give up” (tak pernah menyerah). Toh, kita berada pada posisi “the point of no return”. Maka, “Don‘t Stop, Komandan!”*

     

                                                                                                                                                    (5 Juli 2012)

    Selengkapnya.
    • 1749 pengunjung
    • 2329 hits
    • 22 02 2016

    Teman adalah jimat dan obat mujarab serta mampu menyembuhkan berbagai penyakit. Untuk itu, kita semua wajib menjaga pertemanan dan sebisa mungkin jangan dikecewakan. Toh, teman menjadi solusi terbaik kalau kita stress, teman adalah penasihat dan penular kebaikan, teman juga memberi dukungan saat kita susah dan membutuhkan pertolongan, teman bahkan menjauhkan kita dari masalah dan depresi. Bahkan, temanlah yang memperkuat dan mendukung semua cita-cita dan harapan kita. Makanya, mari kita perbanyak teman. Jaga sikap kita untuk keutuhan pertemanan. Kembangkan sikap mau membantu, antusias, berjiwa besar, dan selalu terbuka untuk saling memberi. Mari kita tidak saling mengecewakan teman. Dan kamu temanku, saya temanmu!*     

     

                                                                                                                                                                    (14 Juli 2012)

    Selengkapnya.

menu lainnya